Bersandar di pojokan Café ini, dengan mencium aroma Lavender, sambil mendengar lagu-lagu galau yang dimainkan pihak Café adalah saat-saat dimana aku harus menghindari rutinitasku sebagai mahasiswa tingkat akhir dengan tumpukan tugas dan skripsi, sekaligus laporan proyek.
Aku menyeruput coklat panas ditanganku. Nikmatnya coklat panas diminum di cuaca dingin ini. Salju terus berjatuhan diluar, seakan tak membiarkan seorangpun merasakan kehangatan.
Rileks, tenang, Aria. Saat-saat ini pasti pernah dialami semua mahasiswa di dunia ini. Aku mengambil hand phone dan mengetik sesuatu untuk adikku di Indonesia sana.
"Kalo ada lo disini, gue udah gila kali ya. Jalan-jalan cuci mata, hahahaha. Ich vermisse dich, meine kleine Schwester. (Aku rindu kamu, adik kecilku)" Sent.
Pikiranku campur aduk. Aku rindu adik perempuanku satu-satunya. Menjadi seorang insinyur teknik sipil adalah impianku. Memutuskan untuk meninggalkannya adalah hal terberat dalam hidupku.
"Hahaha tumben lo kangen sama gue :p gue udah daftar beasiswa ke Jepang, Monbukagakusho. Mudah2an keterima." Balasanmu cepat sekali, Qia.
Aku menghembuskan napas. Mengapa kamu lebih memilih kuliah di Jepang ketimbang di Jerman? Karena Jepang negara favoritmu? Karena ingin membalas dendam karena aku telah meninggalkanmu demi mimpiku?
"Harusnya lo ambil arsitek disini aja, biar bisa deket terus sama gue. Gue tau lo juga kangen gue hahaha." Aku mengirim balasan lagi untuknya.
Aku mengamati sekitar. Makin lama makin banyak orang berdatangan ke Café ini. Lalu mataku menangkap sepasang muda-mudi yang sedang berciuman. Bah, ciuman didepan orang. Tak punya malu. Aku membatin.
"Iya deh gue ke Jerman. Gue lolos beasiswa DAAD, minggu lalu dapet email. Dapet di kampus lo juga, TUM. Jangan pelit2 berbagi kamar sama gue yaa kakakku yang cantik ;))"
Aku melotot membaca pesan singkat darinya. Dia benar-benar akan menyusulku? Dia lebih mementingkan aku dibanding negara impiannya? Duhai, sungguh mulianya hatimu, adik kecilku.
"Kok bisa??? Tadi lo bilang ikut beasiswa Monbukagakusho?" Aku mengirim pesan singkat itu sambil berurai air mata. Bahagia, terharu, semua perasaan menjadi satu.
"Gue apply dari jauh2 hari itu DAAD, niatnya buat cadangan aja. Eh malah keterima. Yaudah gue ambil lah, kasihan sama orang yang kangen sama gue, hahahaha." Kau tertawa seakan kau tak rindu padaku, adikku.
Aku menghirup lagi aroma Lavender itu. Hari ini adalah hariku. Walau aku tersibukkan dengan jadwal kuliah yang padat, aku harus meluangkan waktu untuk menjemputnya.
"Kapan lo berangkat? Masuk bulan April kan ya? Masih ada waktu tiga bulan. Mending lo kesini dulu, itung2 liburan. Lo kan belom pernah tuh ngerasain salju, sampe2 mohon2 main Ice Skating di Mall Taman Anggrek sebelom gue berangkat kesini, hahahaah." Aku ingat, setahun lalu, tepatnya bulan November, dia memintaku untuk bermain Ice Skating bersama, sebagai kenangan terakhir sebelum aku meninggalkannya.
"Tanpa lo suruh pun gue udah booking kali dari jauh2 hari. Besok gue berangkat. Jemput gue yaa di bandara :)" cepat sekali kau mengamb keputusan, kau juga merindukanku, bisa kurasakan itu.
***
Pukul sepuluh pagi, aku berangkat menuju München Airport menggunakan S-Bahn, S1 jurusan München Flughafen. Salju yang turun terus menerus serta angin yang berhembus kencang tak menghalangiku untuk menjemput adik tercinta.
Aku melirik jam tanganku, 10:30. Sekitar dua jam lagi burung besi yang membawa adikku kesini mendarat. Aku berdiri untuk membeli kopi di mesin kopi otomatis.
Langkahku terhenti ketika ada pengumuman mendadak dari pihak bandara. Kecelakaan pesawat yang jatuh di Laut Mediterania lantaran angin yang begitu kencang.
Aku melihat berita itu di layar besar di Bandara. Aku lihat kode pesawat dan arah datangnya. QR3008 yang
datang dari Doha, Arab. Aku gugup, berharap bukan pesawat yang ditumpangi adikku. Aku membuka email yang berisi e-ticket milik adikku dengan tangan gemetar. Kodenya cocok. Tuhan, mengapa Kau mengambilnya? Aku duduk tersimpuh dan menangis sejadinya.
Tulisan (ketiga) ini ditulis untuk mengikuti salah satu ajang tulis-menulis yang diadakan oleh Primadonna Angela di Twitter.
Ingolstadt, 05 Mei 2013 17:35
By Shohwah Bosnia Maulidiyah (@bosniaaaaa on Twitter)
No comments:
Post a Comment