Shared memories

Tuesday, May 7, 2013

Matamu harimaumu

'Jangan berkedip!' Aku berbicara pada diriku sendiri. Kejadian yang kulihat didepan mataku ini membuat amarahku bergelora. Bagaimana tidak? Seorang pria yang aku kenal sedang berciuman mesra dengan wanita yang tidak ku kenal, dipojokan toko buku!


Pria itu, Mas Adit, seniorku di kampus sekaligus pacar dari kakak perempuanku, Adel. Sungguh laki-laki tak tahu malu.

Padahal bulan depan dia dan kakakku satu-satunya akan menikah. Padahal selama dua tahun ini aku sudah percaya padanya. Padahal aku adalah seorang adik yang cemburu ketika kakaknya diambil orang lain. Tapi demi Mas Adit, pria yang telah membuatku jatuh hati, aku rela melepas kakak untuknya.

Aku mengambil kamera dan merekam kejadian menyakitkan untuk kakakku itu. Diperjalanan pulang, aku menangis sejadi-jadinya.

Bagaimana bisa aku pernah mencintai pria macam dia? Bagaimana bisa aku menyerahkan kakakku tercinta pada serigala itu? 'Kak Adel, maafin Cita..' aku berusaha menenangkan diriku.

Beberapa menit kemudian, aku sampai di rumah. Mataku yang sembab, jalanku yang sempoyongan, rambutku yang kusut, pastilah Kak Adel bisa menebak apa yang terjadi padaku.

"Halo Cita, adikku yang paling manis. Gimana? Ketemu gak buku pesanan kakak?" Kak Adel menghampiriku sambil mencubit pipiku. Aku tak menjawab, pastinya.

"Kok kamu nangis? Kenapa? Ada yang jahat sama kamu? Kamu diapain? Diperkosa???" Kak Adel masih bisa menggodaku walau tahu adik kecilnya ini sedang menangis mengkhawatirkan dirinya. Aku melengos.

"Yakali kak aku diperkosa. Masa gak bisa aku lawan pake jurus karateku?" Aku menjatuhkan diri di sofa.

"Oh iya ya, kan Adit udah ngajarin jurus-jurus sakti ke adikku yang imut ini." Kak Adel kembali tersenyum.

'Kak, tolong jangan sebut-sebut nama Adit lagi. Aku sudah muak.' Batinku.

"Kak, aku mohon kakak batalin pernikahan kakak sama Mas Adit." Aku berbicara sekedarnya. Senyum Kak Adel lenyap dari wajahnya.

"Kok tiba-tiba ngomong gitu? Kan dulu kamu yang ngejodoh-jodohin kakak sama Mas Adit." Kak Adel menghampiri dan duduk disampingku.

"Aku lihat di toko buku, Mas Adit sama cewek lain jalan bareng." Kataku sedikit berbohong.

"Mamanya kali? Atau adiknya? Atau tantenya." Kak Adel terlihat membela Mas Adit.

"Kak, dua tahun kakak pacaran sama Mas Adit, minggu lalu dilamar, masa iya aku gak tau wajah mama, adik, atau tantenya Mas Adit?" Suaraku serak, menahan tangis.

"Cita.. kakak tau kamu cemburu kalo kakak pergi dari rumah ini. Tapi gak harus memfitnah Adit juga kan? Gini deh, nanti kak kakak ketemu Adit, kakak ngomong sama dia. Biar kelar masalahnya. Gak bisa dong hanya karena hal sepele kayak gitu terus pernikahan kita bulan depan batal? Apalagi kamu gak punya bukti" Kak Adel terlihat berat melepas Mas Adit.

"Aku punya bukti kok kak! Aku rekam di hand phone!" Aku meraba ranselku dan mengambil hand phone ku. 'Ah sial baterainya habis.' Aku mengumpat dalam hati.

"Hape-ku mati kak." Suaraku makin lemas.

"Yaudah, isi duli gih. Besok sebelum berangkat kuliah kasih lihat kakak. Kakak mau pergi dulu ya, cari-cari baju pengantin sama Adit. Kamu jangan lupa makan malem!" Kak Adel mencubit pipiku sambil mengambil tasnya di meja.

***


Jam delapan pagi. Aku bergegas mandi dan sarapan. Hari ini ada kuis Mekanika Teknik. Aku tak boleh terlambat, Pak Nadjam sangat killer.

"Kak aku duluan ya, ada kuis mektek nih! Assalamu'alaikum!" Aku berteriak sambil berlari keluat rumah.

"Eh katanya mah nunjukin Videonya?" Kak Adel berteriak balik namun tak ku hiraukan.

***

Fiuh... selesai sudah kuis Mekanika Teknik yang susah ini. Aku merapikan alat tulis yang berserakan diatas meja. Aku harus segera menunjukkan video itu ke Kak Adel yang berada di kantin.

"Oy Cit, noh ada Adit." Salah satu temanku memberitahukan bahwa Mas Adit menungguku di depan kelas. Seketika napasku sesak. Mau apa Mas Adit kesini? Mencoba menutup mulutku?

"Cit, temenin Mas ke ruang dosen yuk. Mas mau daftarin kamu buat ikut kejuaraan Karate di Polban (politeknik Bandung)." Mas Adit tersenyum ke arahku.

Aku menghela napas, untunglah bukan soal video kemarin. Aku membalas senyumnya.
Kami berjalan melewati lorong yang lumayan sepi karena para mahasiswa lebih memilih jajan di kantin ketimbang belajar di kelas.

Tepat di toilet pria, Mas Adit mendekapku kencang menggunakan jurus Karate, hingga aku terlalu mepet ke dinding.

"Mas, sakit. Lepasin.." aku merengek kesakitan.

"Kamu kalo mau jadi anak baik, serahin video itu ke mas." Mas Adit mengancamku.

"Gak mau mas. Mas udah mengkhianati Kak Adel. Aku gak mau mas jadi kakak iparku!" Ucapku lirih.

"Oke. Kalo gitu mas harus ngasih kamu ini." Mas adit merogoh saku celananya. Entah apa yang diambil, namun samar-samar kulihat Mas Adit meniupkan serbuk ke mataku. Serbuk itu masuk ke mataku. Aku merasakan pedih luar biasa.


"Matamu harimaumu, Cit. Inget itu." Mas Adit melepasku lalu berjalan meninggalkanku sendiri. Aku tak melihat jalan pulang, semua hitam. Aku tak bisa lagi melihat.

Tulisan (keempat) ini ditulis untuk mengikuti salah satu ajang tulis-menulis yang diadakan oleh Primadonna Angela di Twitter.

Ingolstadt, 07 Mei 2013 11:28
By Shohwah Bosnia Maulidiyah (@bosniaaaaa on Twitter)

No comments: