Shared memories

Sunday, May 5, 2013

Bidadari Penipu

Satsuki-sensei, begitulah panggilanku untuk wanita kuat nan cantik pelatih Karate di sekolahku. Wanita berdarah Indo-Jepang itu telah merebut hatiku sejak pertama bertemu. Bagaimana tidak? Kuat, pintar, cantik, memesona.

Aku yang sedang meliput berita tentang perjalanan hidupnya untuk majalah sekolah tanpa sadar memperhatikan parasnya yang indah. Duhai, cantiknya. Serasa melihat bidadari jatuh dari kahyangan.


"Setelah itu aku melamar sebagai pelatih Karate di SMAN 100 Jakarta ini. Sudah begitu saja perjalanan hidupku. Hei, kau dengar, Andi?" Aku tersadar dari lamunanku.

"Eh iya, sensei. Maaf, sampai mana kita tadi?" Aku terlihat seperti pria linglung dimatanya.

"Kau ini bagaimana sih, aku sudah menjelaskan semua, dari A sampai Z. Apa aku harus mengulangnya lagi? 

Aku tak punya banyak waktu untuk itu!" Ia menyorocos panjang lebar. Memang, aku yang tergabung dalam klub majalah sekolah ini tak pernah dianggap "ada" olehnya. Hanya karena rupaku yang culun? Yang memakai baju seragam rapi, yang mengancingkan kerah baju dan lenganku, yang rambutku setiap hari kubalur dengan minyak kelapa, yang memakai kacamata jadul ala Boboho?


"Maaf sensei, tadi ada sesuatu yang kupikirkan." Aku meminta maaf atas sikapku yang kurang pantas sebagai wartawan majalah sekolah. Aku menatapnya dengan mata iba. Ia balik menatapku tajam.

"Begini saja, aku kirim riwayat hidupku ke emailmu, aku harus pergi, ada janji dengan seseorang." Ia mengambil secarik kertas dan pulpen dariku.

"Apa alamat emailmu?" Ia bertanya dingin.

"andiandi@gmail.com. Sekali lagi terima kasih ya sensei." Aku tersenyum padanya. Ia tersenyum kecut padaku.

"Tunggu saja, paling lama pukul 20:30 malam ini aku kirim." Ia berjalan meninggalkanku.


Aku teringat tugas berikutnya, meliput hal tabu yang sedang "hot" dikalangan para murid dan guru: narkoba. Aku sudah tahu beberapa informasi tentang pengedar narkoba yang berkeliaran di sekitar sekolah kami, termasuk tempat transaksinya.

Aku segera berlari ke kelasku dan menyambar ranselku. Aku berlari menyusuri lorong sekolah. Tepat dibelokan menuju gerbang aku melihat sosok Satsuki-sensei. Aku memperlambat langkahku.

'Ah, sensei pasti pergi kencan dengan pacarnya.' Batinku, sedikit kecewa. Aku membiarkan sensei jalan terlebih dahulu. Aku tak ingin melihat dia mencium pipi pacarnya yang menunggu di gerbang sekolah.

Lima menit kemudian aku mulai berjalan keluar dari sekolah. Tak butuh waktu lama untuk berjalan hingga sampai ke tempat transaksi itu.

'Semoga aku beruntung hari ini. Semoga aku bisa melihat wajah pengedar narkoba itu dan menyeretnya ke penjara. Dasar, perusak hidup kaum muda. Lindungi aku, Tuhan, dalam memberantas bibit-bibit penyakit di tanah air tercinta ini.' Aku berdoa dalam hati.

Aku melangkah dengan hati-hati, memasuki gang kecil yang sepi itu, lalu bersembunyi dibalik pohon besar.
Seorang siswa SMA dengan rokok ditangannya terlihat sedang menunggu seseorang.

'Ini dia bibit penyakitnya, harus aku ambil fotonya.' Batinku sambil mengeluarkan kamera dari ranselku. 'Tamatlah riwayatmu, wahai bibit penyakit!'

Beberapa menit kemudian datang seorang wanita dengan topeng diwajahnya. 'Oh, jadi wanita ini mau membeli narkoba itu? Aduh wanita zaman sekarang, sudah rusak juga ternyata.' Aku membatin. Lagi, kuambil beberapa foto dari mereka.

"So, lo udah transfer belom ke rekening gue?" Wanita itu bertanya pada siswa SMA. Sang siswa tak bersuara, hanya memberi secarik kertas pada wanita tersebut. Aku tak mengerti. Perkiraanku salah, justru wanita inilah pengedar narkoba itu. Aku merinding. 'Berita ini akan menjadi sangat heboh, karena pengedarnya adalah seorang wanita.' Aku memotret dan terus memotret.

"Bagus, nih barang lo." Wanita itu memberi sebungkus obat pada siswa SMA. Kali ini aku membuat vidoe. Ketika aku memperbesar gambar, aku terhenyak. Gelang yang dipakai wanita itu, mirip dengan gelang yang pernah aku beri kepada Satsuki-sensei dihari ulang tahunnya seminggu yang lalu.

"Thanks, Satsuki-sensei." Ucap siswa SMA sambil memasukkan "barang" tersebut ke dalam ranselnya. Kekagetanku semakin bertambah ketika mendengar sang siswa menyebut nama wanita yang membuatku tergila-gila, Satsuki-sensei.

Tulisan (kedua) ini ditulis untuk mengikuti salah satu ajang tulis-menulis yang diadakan oleh Primadonna Angela di Twitter.

Ingolstadt, 05 Mei 2013 14:55
By Shohwah Bosnia Maulidiyah (@bosniaaaaa on Twitter)

No comments: