Aku meraba kotak mimpiku. Bayangan orang itu muncul lagi. Orang yang lebih mementingkan pekerjaannya dibanding aku. Bah, persetan dengan pekerjaan! Padahal sudah tiga tahun kami menjalin cinta, cinta jarak jauh tepatnya. Aku di Jerman, dia di Indonesia. Setelah setahun lalu aku memutuskan untuk kuliah disini, ia semakin tergila-gila dengan pekerjaannya. Bayangkan, semua proyek di luar Jawa ia emban. Mulai dari di Lampung, Kalimantan, bahkan Papua sekalipun! Macam kejar setoran saja.
Pikiranku menerawang. Malam minggu begini banyak muda-mudi yang berkeliaran di mall terbesar di kota ini, West Park. Sedang aku? Hanya duduk di salah satu Café disini sambil menjilat eskrim favoritku, vanila. Café ini sangat nyaman, aku pernah mendeskripsikan padanya mengenai Café ini.
Fiuh.. aku menghembuskan napas panjang. Sudah lebih dari tiga bulan aku dan dia lost-contact. Padahal dia tahu, aku disini sedang menikmati liburan semesterku, sendirian. Ya, sendirian.
Lagi-lagi aku membuka memori-memori kami di dalam kotak mimpiku. Enam bulan yang lalu, saat musim dingin disini, dia bahkan menyempatkan dirinya menemaniku menghabiskan libur natal. Sekarang? Yang terpenting adalah pekerjaannya. Rasanya aku ingin berteriak, "nikahi saja pekerjaanmu!"
Lagu Jet Lag dari Simple Plan mengagetkanku. Ini telepon dari dia. Aku sudah memasang ringtone ini khusus untuknya. Untuk apa ia menelepon tengah malam begini? Maksudku, tengah malam waktu Indonesia, karena disini masih pukul 19:05.
"Hallo.." aku gugup. Tiga bulan tidak mendengar suaranya, aku rindu.
"Eskrimnya enak ya. Apalagi kalau dimakan bersama kamu." Suara diseberang sana terdengar santai.
"Salah. Enaknya malah kalau kamu makan sambil bekerja." Aku menyindirnya. Tuhan, aku tidak bermaksud untuk melontarkan kata-kata itu. Seakan aku cemburu. Haha bukan sesuatu yang elit jika aku cemburu pada pekerjaannya.
"Tapi untuk eskrim seenak ini harga 1 € terbilang murah lho." Lagi-lagi nada santai itu. 'Bilang kangen kek, bilang cinta kek. Ini mah yang diomongin malah eskrim mulu. Bete.' Aku menggumam dalam hati.
"Iya tau deh yang banyak duit, banyak kerjaan. Sampe-sampe bilang 1 € itu murah. Bagi kita-kita mahasiswa, 1 € mah bisa buat beli kaos diskonan di C&A." Kulontarkan kata-kata pedas untuknya.
Tuut..tuut. telepon tiba-tiba putus. "Katanya banyak kerjaan, tapi kok buat beli pulsa aja gak becus sih. Rese, nyebelin, nikah aja sono sama panel-panel!" Tanpa sadar aku mengumpat dalam bahasa Indonesia didepan sekian banyak orang di Café.
"Maaf deh kalo bikin bete. Sekarang masih bete gak?" Suara yang barusan aku dengar ditelepon tiba-tiba ada di belakangku. Refleks, aku menoleh. Betapa terkejutnya aku mendapatkan sosoknya berdiri di belakangku sambil memegang cincin yang indah.
"Willst du mich heiraten? (Maukah kau menikah denganku?)" Ia menyodorkan cincin itu sambil mengambil tangan kiriku. Aku membisu. Keberadaannya disini saja sudah membuatku bahagia. Ditambah dia datang untuk melamarku. Oh Gott, ini bukan mimpi, kan? Memang, salah satu momen yang aku simpan dalam kotak mimpiku adalah momen ini: dia melamarku.
"Kok diem? Gak mau ya nikah sama aku? Oh kasihan ya aku. Udah cepet-cepet kelarin semua proyek biar bisa ambil libur lebih awal, udah dapet visa untuk nikah di Jerman, udah berusaha buat dateng di tanggal jadian kita, eh sang pujaan hati malah diam tak bersuara. Apa aku balik aja ya ke Indo? Aku barusan cek jadwal pesawat, ada yang terbang jam sebelas nanti." Dia terus mengoceh, aku benar-benar tak bisa berpikir. Aku terlalu bahagia, Tuhan. Bolehkah aku sebahagia ini? Dia melakukan itu semua untukku?
Bahkan dia ingat tanggal dimana kami mengikrarkan untuk mencintai satu sama lain, yaitu hari ini, tanggal dua puluh tiga. Jahatnya aku sudah berburuk sangka padanya. Tanpa terasa air mataku jatuh, aku memeluknya erat sambil menjawab atas lamarannya, "Ja, ich freue mich darüber. (Ya, dengan senang hati.)"
Tulisan ini ditulis untuk mengikuti salah satu ajang tulis-menulis yang diadakan oleh Primadonna Angela di Twitter.
Ingolstadt, 05 Mei 2013 05:50
By Shohwah Bosnia Maulidiyah (@bosniaaaaa on Twitter)
No comments:
Post a Comment