Shared memories

Monday, April 29, 2013

Du bist unsere Engel, Aya...

Namanya Aya, Sayed Aya. Usianya tahun ini genap enam tahun. Dia tidak seperti anak perempuan biasanya yang sudah mulai mencoba pakaian-pakaian bagus. Dia tidak seperti anak perempuan biasanya yang bisa menemani ibu belanja ke Mall. Dia tidak seperti anak perempuan biasanya yang sudah mulai sedikit cerewet. Dia tidak seperti anak perempuan biasanya yang membantu ibu memasak.

Jauh dari semua itu, dia tak bisa berbicara, dia tak bisa berjalan. Ya, dia adalah bidadari kami. Sebelum aku datang kesini, ibu asuhku mengirim beberapa foto anggota keluarga asuhku. Aku sempat kaget melihat satu anak perempuan memakai kacamata tebal, walau ku taksir usianya sekitar lima tahun.
Sebelum aku bertanya, ibu asuhku sudah menjelaskan bahwa salah satu anak perempuannya cacat. Jujur, aku sempat takut menangani anak cacat. Hei, aku belum berpengalaman sama sekali! Lalu, tiba-tiba aku harus menangani anak cacat. Aku rasa ada hikmah dibalik ini semua.

Aku ingat, saat pertama kali aku datang kesini, aku masuk ke ruang keluarga dan mendapatkannya sedang duduk di karpet. Allah, aku tak tahu apa yang harus aku lakukan dengan anak cacat ini?

Lalu ibu asuhku berkata, "Aya, das ist die Shohwah. Sag mal Assalamu'alaikum.. (Aya, ini Shohwah. Ayo bilang assalamu'alaikum..)" aku pun hanya menghampiri dan mengelus-elus pipinya sambil tersenyum. Diluar dugaanku, dia menggenggam erat tanganku dengan kedua tangannya sambil berteriak sedikit kencang. Aku kaget. Aku menoleh kearah ibu asuhku. "Keine angst, sie ist glücklich wenn jemand kommt. (Gak usah takut. Dia justru senang kalau ada orang datang.)" Kata ibu asuhku sambil tersenyum. Dia senang aku disini? Pikirku. Lalu aku menggenggam tangannya. Dia kembali teriak. Begitulah awal pertemuan kami.

Hari berlalu, aku semakin dekat dengan dia. Aku yang menyuapi dia disaat sarapan, makan siang, dan makan malam. Aku yang mengganti pakaiannya ketika dia akan pergi ke TK. Aku yang mengganti pampersnya setiap empat jam sekali. Aku yang menggosok giginya ketika selesai sarapan dan sebelum tidur. Aku yang mengantarnya ke gerbang rumah ketika bus jemputan TK datang. Aku yang melatihnya untuk berjalan selama sepuluh menit sebelum dia tidur.

Kadang aku merasa kesal, ketika dia tak ingin makan ataupun minum. Kadang aku juga kesal, ketika dia hanya ingin duduk, tak mau berjalan. Kadang jika aku terlampau emosi, aku sampai berpikir, "kenapa kamu begitu bodoh??"

Astaghfirullah, aku meminta ampun kepada-Nya. Semua ini pasti ada hikmahnya. Tak mungkin Allah mempertemukanku dengannya jika hanya membuatku terbebani. Sama seperti Allah mempertemukanku dengan bahasa Jerman.

Jujur, waktu aku SMA, aku lebih tertarik mempelajari bahasa Jepang ketimbang Jerman. Namun aku tetap tertarik dengan bahasa asing. Di tahun kedua SMA, aku berpikir, aku ingin kuliah di Jepang. Mengapa aku harus belajar bahasa Jerman? Sampai luluspun, aku belun mengerti mengapa Allah mempertemukanku dengan bahasa Jerman. Lalu, saat aku duduk di Semester empat di bangku kuliah, Allah menunjukkanku jalan menuju Jerman. Hingga akhirnya aku disini. See? Allah sudah merencanakan semuanya. Bahkan tak pernah terpikir olehku untuk kuliah atau tinggal di Jerman. Negara impianku adalah Jepang. Namun Allah tahu yang terbaik untukku, bukan yang aku butuhkan. Subhanallah...

Aku ingat perkataan ayah asuhku, "Aya ist unsere Engel. Wenn du etwas für sie machst, betet sie zu Allah. Oh Allah, bitte diese Frau geht zu Paradies. (Aya adalah bidadari kita. Ketika kamu melakukan sesuatu untuknya, dia berdoa kepada Allah. Ya Allah, tolong masukkan perempuan ini kedalam surga-Mu.)"

Aku merinding mendengarnya. Beliau benar. Aya memang tak dapat berbicara, tak dapat berjalan, bahkan kami meragukan dia masih mempunyai otak untuk berpikir. Namun, dia justru bidadari yang insya Allah do'anya dikabulkan oleh Allah, yang insya Allah akan masuk surga.

Kadang juga aku kasihan. Ketika sehabis makan, aku menuntunnya berjalan, kadang juga ku gendong dia. Jika berjalan, dia pasti mampir ke tempat kompor listrik berada. Atau ke mesin cuci piring. Atau ke depan kulkas. Seakan dia berkata, "shohwah, ich bin auch eine Mädchen. Ich will auch kochen, ich will die Küche sauber machen. (Shohwah, aku juga anak perempuan. Aku juga mau memasak. Aku juga mau membersihkan dapur.)"

Atau, ketika ibu asuhku sedang sibuk di wastafel dapur, aku mrngajaknya ke wastafel di toilet untuk mencuci tangan dan mukanya. Ketika memasuki toilet, dia girang bukan main. Sedih rasanya jika membayangkan apa yang dia pikirkan. Mungkin dia berpikir, "tempat ini asing sekali. Aku belum pernah ke tempat ini sebelumnya." Sungguh miris bukan? Disaat saudaranya yang lain lari terbirit-birit ke toilet ketika hendak BAK atau BAB, dia justru mengeluarkan itu semua di pampersnya. Rabbi :"

Sekarang, aku benar-benar ikhlas mengurusnya. Aku mendapat tiga kelebihan sekaligus. Pertama, aku dapat pahala dari Allah. Kedua, aku bisa belajar tentang orang cacat darinya. Ketiga, ketika dia mendoakanku, bisa jadi aku masuk surga. Semoga.

Pernah aku bertanya pada ibu asuhku, penyakit apa yang diderita Aya, hingga dia tidak bisa berbicara dan berjalan. Maksudku, apa yang salah darinya? Apakah otaknya bermasalah, atau ada otot yang bermasalah, atau berbagai kemungkinan lain?

Namun ibu asuhku tambah membuatku penasaran. Beliau berkata, ketika Aya lahir, ibu asuhku mengalami pendarahan hebat. Lalu Aya terlahir dengan kedua matanya yang jereng. Suatu hari dia sakit, ibu asuhku membawanya ke dokter. Oleh dokter diberi obat. Entah mengapa setiap dia sakit, selalu keluar darah banyak dari lengan bekas imunisasi.

Diusianya yang pertama, ibu dan ayah asuhku memeriksanya secara rutin ke dokter, bahkan hingga melakukan röntgen. Namun tidak ada yang salah padanya. Semua normal. Tapi diusianya yang satu tahun, dia sudah mempunyai kelainan di mata, dia harus memakai kacamata dengan minus empat! Bayangkan! Diusianya yang baru satu tahun dia harus memakai kacamata! Allah berkahi dia...

Kadang aku kasihan padanya. Hanya karena dia tidak bisa berjalan, saudara-saudaranya tidak mengajaknya bermain. Karena ada Amina yang masih bayi, ketika ayah asuhku pulang kerja, Amina yang diutamakan. Kadang jika ada hal yang menghebohkan, semua berbondong-bondong ke tempat kejadian, lupa padanya. Kadang dia iri melihat ayah, ibu, atau aku bermain dengan anak yang lain. Aya, sekarang kamu tak lagi kesepian, aku akan selalu ada di samping kamu :')

Aku tahu orang tua asuhku sangat sayang padanya. Mereka sampai memanggil psikiater ke rumah kami untuk melatih Aya. Setiap satu minggu sekali, Aya juga dikirim ke physioterapi.

Terkadang, ketika dia menangis atau mengamuk, kami tidak tahu apa yang dia inginkan. Disaat itulah aku membantunya. Aku mengajaknya bermain hingga dia tenang. Setelah tenang, barulah kami tahu apa yang sebenarnya dia inginkan.

Keluarga asuhku bilang, Aya sangat sayang padaku. Aku tak berharap dia menyayangiku. Tapi perkataan mereka memang benar. Disaat aku libur hari sabtu dan ahad, aku banyak menghabiskan waktuku di kamar ataupun diluar rumah. Lalu, ketika aku datang, padahal Aya baru saja mendengar suaraku, dia yang sedang asik bermain, langsung berjalan menggunakan (maaf) bokongnya untuk menghampiriku. Lalu mengulurkan tangannya padaku, akupun meraihnya dan aku peluk dia. Saat-saat itu mungkin adalah saat terindah baginya. Dia memelukku erat, sangat manja padaku. Kemudian dia mengajakku bermain. Kalau dia sudah ada di pangkuanku, tak boleh ada satu orangpun yang mengambil aku darinya.

Pernah suatu ketika, aku sedang bermain dengannya. Lalu Amina menangis dan datang ke arahku. Aku hanya ingin membuat Amina berhenti menangis. Namun Aya terlanjur cemburu. Dia menarik jilbabku hingga lepas dan menjambak rambutku. Hahaha. See? Mungkin benar bahwa dia mencintaiku :')

Tinggal bersamanya selama kurang lebih lima bulan, membuatku tahu semua tentangnya; apa yang dia sukai, apa yang tidak dia sukai.

Dia paling suka tepuk tangan, apalagi jika orang tepuk tangan untuknya, seakan dia adalah seorang pahlawan :) pernah aku mempraktikkan tepuk pramuka, lalu dia jatuh hati pada tepuk pramuka haha. Dia juga suka sekali musik dan melodi. Kadang aku bernyanyi lagu anak kecil untuknya, dalam bahasa Indonesia pastinya :)

Atau kadang aku memainkan jari-jariku dan memukulkannya ke meja atau lantai, membuat irama. Dia sangat menyukai itu.

Dan yang paling tidak dia sukai adalah, ketika orang lebih memperhatikan Amina ketimbang dia.

Hari ini, pertama kalinya aku menemani Aya ke physioterapi. Kami pergi dengan menggunakan bus. Hebatnya Jerman, orang cacat disini diberi fasilitas lebih. Contoh, kereta dorong bayi dipinjamkan hingga Aya bisa berjalan. Naik kendaraan umum bagi pengantarnya juga gratis. Lalu pampers juga dibelikan.

Aku miris sekali mendengar perkataan ibu asuhku sebelum aku berangkat ke physioterapi. Saat itu Aya baru bangun tidu dan (maaf) BAB. Aku mengganti pampersnya. Lalu ibu asuhku menyarankan agar aku memakai sarung tangan agar baunya tidak lama menempel di tanganku. Aku menurutinya. Aku memakai sarung tanganku dan mengganti pampers yang penuh (maaf) BAB.

Lalu ibu asuhku berkata, "pampers dan sarung tangan itu dikasih gratis dari pemerintah. Karena status Aya sekarang adalah 100º cacat." Aku menghentika
n pekerjaanku sesaat dan menoleh kearah ibu asuhku. "Maksudnya cacat yang dimiliki Aya adalah cacat parah. Kan ada yang cacat sederhana, ada yang sedang-sedang saja, nah Aya yang parah. Karena biasanya, orang cacat yang gak bisa jalan harus terus dilatih supaya pas usia enam tahun sudah bisa jalan. Kami sudah melakukan yang terbaik untuk Aya. Namun hingga tahun ini, diusianya yang ge
nap enam tahun, dia belum bisa berjalan sendiri."

Aku menahan air mataku. Yaa Rabb, mengapa Engkau memberi cobaan ini pada keluarga asuhku yang sangat baik dan taat pada-Mu? Atau, Aya adalah hadiah untuk keluarga asuhku? Apapun itu, Yaa Rabb, berkahi selalu keluarga asuhku. Aamiin...

Kami berangkat ke physioterapi. Aya terlihat sangat gembira. Dia memang tak bisa berpikir, tapi dia adalah seorang pemaham yang hebat. Dia paham, ketika orang memakaikan baju yang bagus untuknya, berarti dia akan pergi ke tempat bagus juga. Sama halnya ketika aku, Aya, dan Amina bermain di halaman rumah. Aya duduk di kereta dorong bayi. Amina duduk di ayunan. Lalu aku lebih sering bermain dengan Amina, Ayapun menangis dan menjerit. Aku menghampirinya. Lalu aku berkata, "ich entschuldige mich, Aya. Ich bin sehr oft mit Amina spielen. Ich weiß, du willst auch mit mir spielen. Entschuldigung Aya. (Aku minta maaf ya Aya. Aku lebih sering bermain bersama Amina. Aku tahu, kamu juga mau bermain bersamaku. Ma
af ya Aya.)" Subhanallah, saat itu juga tangis dan jeritannya berhenti. Lalu ia menggenggam tanganku dan tersenyum. Allah, betapa mulia dia :')

Aku tahu, pertemuanku dengan Aya bukan suatu kebetulan. Ada beberapa kemungkinan yang ada di benakku: aku akan bekerja di bagian penanganan anak cacat, aku akan melanjutkan S2 psikologi khusus anak cacat, atau.. calon anakku adalah anak cacat. Kenapa tidak? Semua pasti ada hikmahnya.

Aya itu cantik, lebih cantik dari Amina, menurutku. Dia mempunyai rambut coklat tua keemasan, bola mata yang besar dengan warna coklat bening. Alis tipis namun rapi. Bibir merah nan mungil. Bulu mata lentik. Aih sangat cantik.

Aku ingat, ayah asuhku pernah berkata, "ketika Aya lahir, Allah bertanya padanya, 'Aya, kau butuh otak atau tidak?' Lalu Aya menjawab, 'tidak, terima kasih. Aku tak butuh otak.' Lalu Subhanallah, Allah beri dia keindahan. Semua indah. Mata, hidung, bibir, rambut, semua..."

Ayahmu betul, Aya.. kamu memang cacat, tapi kamu adalah bidadari.. aku yakin, kamu nanti bisa menikah dengan pria yang mencintaimu apa adanya.. Aya, berjuanglah untuk terus berjalan dan berbicara. Kamu masih punya banyak waktu untuk itu. Aya, terima kasih telah memberiku banyak pelajaran sejak mengenalmu. Allah menyertaimu, sayang.. 

Peluk cium dari au pair yang sangat menyayagimu..

Ingolstadt, Senin, 29 April 2013 23:05
Shohwah Bosnia Maulidiyah (@bosniaaaaa on Twitter)

2 comments:

Unknown said...

it shred my tears to read your posting about Aya....i never met her, yet I already love her through your story...May Allah bless you and Aya as well as her family....^_^

Unknown said...

hi, thanks for reading my story bout her :) and thank you so much for your du'a.. may Allah bless you too :)