Shared memories

Sunday, April 28, 2013

Akankah kalian melepasku, wahai ayah dan ibu?

Aku menatap langit-langit kamar. Ear phone yang terpasang ditelingaku membuatku bisa berbicara sambil menidurkan diri di atas kasur. Malam ini cukup dingin. Kutarik selimut tebalku hingga menutupi leherku. Suara temanku di seberang sana kadang ku dengar dengan seksama, kadang tidak. Lalu, percakapan antara kami berbelok 180ยบ menjadi tema yang agak menakutkan : pernikahan.
Dia sudah punya calon suami yang akan dinikahinya 2016 mendatang. Lalu aku bertanya pada diriku sendiri, "kapan aku menikah?" Selayaknya perempuan seusiaku, aku juga ingin menikah. Merasakan harus bangun pagi untuk mengurus suami. Atau bahkan harus bangun tengah malam karena jerit tangis bayiku yang kehausan.
Disatu sisi, diusiaku yang terbilang bukan anak kecil lagi, aku ingin menikah. Melengkapi separuh agama, menikah dengan pria yang bisa membawaku ke surga-Nya, pria yang telah Tuhan kirim untukku.
Disela pembicaraan kami, pikiranku melayang pada sosok dua super hero dalam hidupku; ayah dan ibu.
Mereka yang telah merawatku selama kurang lebih dua puluh satu tahun. Mekera yang selalu mengutamakan kepentinganku dibanding kepentingan mereka. Mereka yang dengan kerja keras berusaha menempaku menjadi wanita tangguh. Mereka yang dengan jiwa raganya berusaha melindungiku dari hal-hal yang akan membuatku terluka. Mereka, orang tuaku.
Impianku memang menikah muda, sekitar usia dua puluh satu tahun atau dua puluh dua tahun, seperti ibuku yang menikah di semester keenam di bangku kuliahnya.
Lalu, usiaku tahun ini genap dua puluh satu tahun. Akankah aku menikah tahun ini?
Ah, membayangkan semua hal bahagia tentang pernikahan pastilah membuat para wanita ingin cepat menemukan sang suami. Namun, tunggu! Aku melupakan satu hal penting: keluargaku.
Sedari kecil aku memang hidup bersama dengan keluargaku. Tak ada yang kurang. Lalu, menginjak bangku SMP, aku terpaksa meninggalkan keluargaku di Jakarta dan mengemban ilmu di Bogor. Setahun kemudian, adikku, Naufal mengikuti jejakku ke pesantren tercinta.
Saat aku lulus SMP, aku memutuskanu untuk melanjutkan di SMA negeri. Akhirnya aku bisa beekumpul lagi dengan keluargaku. Ayah, ibu, aku, Naufal, Faqihah, Faris, Syaif, Nu'aim, Nusaibah, dan Nurul. Ya, sepuluh anggota keluarga. Setidaknya itulah pikiranku sebelumnya. Tapi ternyata tidak dengan ayah, beliau harus tinggal di luar Jawa dan bekerja disana sendiri, tanpa kami.
Awalnya ayah mengira yayasan pendidikan tersebut mengontrak ayah hanya satu tahun, jadi ibu dan kami tak perlu pindah ke Riau. Namun ternyata, kerja ayah sangat bagud sehingga yayasan tersebut memperpanjang kontrak kerja ayah.
Tahun demi tahun berlalu, ayah masih sendiri di Riau. Tiba saatnya aku menginjak bangku perkuliahan. Aku mendapat PMDK dan masuk ke Politeknik Negeri Jakarta tanpa tes. Itu adalah suatu kebanggaan untukku. Kampusku berada di Depok, dan rumahku di Jakarta. Akan sulit jika aku pulang-pergi Jakarta-Depok setiap hari. Aku memutuskan untuk tinggal dengan nenek di Depok, kebetulan kakek kami sudah tiada dan ibuku khawatir dengan keadaan nenek yang tinggal sendiri.
Lalu satu persatu anggota keluarga kami berpencar: aku yang tinggal dengan nenek di Depok, Naufal yang melanjutkan SMAnya di Bogor, Faqihah yang memasuki SMA di sekolah binaan ayah di Riau, Faris yang memasuki pesantren Tahfidz di Bandung, serta ibu bersama Syaif, Nu'aim, Nusaibah, dan Nurul di Jakarta.
Tahun pertama aku merajut ilmu di kampus, ibu mendapat tawaran untuk menjadi wali asrama di salah satu pesantren Tahfidz di Karawang. Mereka akan memfasilitasi ibu selama ibu bekerja disana, misal rumah dan kendaraan pribadi. Aku, ayah, dan ibu berdiskusi. Akhirnya sampailah keputusan kami untuk tinggal di Karawang.
Tak ada yang berubah, hanya Nu'aim yang kelas enam SD tak bisa pindah sekolah lantaran waktu UN sudah dekat. Alhasil Nu'aim tinggal bersamaku dan nenek di Depok. Lalu, Faqihah merasa tidak betah tinggal di Riau, jadilah dia tinggal di Depok juga.
Satu tahun berlalu, Naufal sepertinya sangat setia pada Bogor, dia melanjutkan S1 di Institut Pertanian Bogor jurusan Biologi Kimia. Lalu Nu'aim lulus UN dan melanjutkan ke SMP di Kuningan. Faris pun lulus SMP dan melanjutkan SMA di Kuningan bersama Nu'aim. Ayah jatuh hati pada Riau, haha. Tidak, sejujurnya ayah ingin kembali ke pelukan ibu. Ayah ingin mengakhiri kontrak kerjanya dan mencari pekerjaan lain di Karawang dan sekitarnya, namun kenyataan memang pahit, ayah sedang melanjutkan S2nya di Universitas Riau. Tak mungkin ayah meninggalkan studinya.
Lalu, aku mendapat kesempatan untuk ke Jerman, ayah dan ibu pun melepasku demi ilmu dan cita-citaku.
Lalu sekarang aku berpikir untuk menikah? Bah! Aku sudah bertahun-tahun meninggalkan canda tawa dalam keluargaku. Ah, Tuhan. Aku ini wanita paling egois.
Aku tak bisa membayangkan, bagaimana wajah kedua orang tuaku, ketika aku kembali ke tanah air dan meminta izin untuk menikah. Sungguh sakit hati mereka. Mereka yang harus menahan rindu selama aku di Jerman. Mereka yang terus menyemangatiku untuk mengukir prestasi di Jerman. Lalu apa balasanku? Ingin menikah dan meninggalkan mereka? Sungguh egois!
Aku teringat pertanyaan salah satu teman kursusku yang berasal dari China, "Shohwah, kamu kan masih muda, kok bisa sih orang tuamu melepasmu ke negara lain? Orang tuaku saja berat melepasku, walau usiaku sudah dua puluh enam tahun." Ah, aku yakin mereka sebenarnya berat untuk melepasku. Namun semua demi ilmu. Seperti pepatah: tuntutlah ilmu walau sampai China.
Ayah, ibu, maafkan anakmu yang egois ini. Aku sangat menikmati saat-saat kebersamaan kita. Ketika libur tiba, ketika Ramadhan tiba. Ketika Idul Adha tiba. Namun, lancangkah aku jika aku ingin menikah? Akankah kalian melepasku, wahai ayah dan ibu yang paling kucintai?
Ditulis dengan air mata rindu dan penyesalan..

Ingolstadt, Ahad, 29 April 2013 01:00
Oleh Shohwah Bosnia Maulidiyah (@bosniaaaaa on Twitter)

No comments: