Setelah 3 tahun tinggal di Jerman, akhirnya aku bisa pulang juga, itupun karena ada urusan mendadak. Terbang tanggal 12 November dari Bandara München, mendarat di Jakarta tanggal 13 November. Sepuluh hari menetap di Depok-Karawang, nenek selalu memanggilku dengan sebutan "turis domestik". bagaimana bisa? Tentu saja bisa, sebab aku selalu tidur setelah subuh dan bangun lagi setelah adzan zuhur berkumandang. Jet lag, kata ku singkat pada nenek. Ah, itu hanyalah alasan untuk tidak disebut "pemalas" hahahaah. Tidak, sebenarnya aku bukan tidak berusaha untuk tidak jet lag, tapi lebih tepatnya aku sengaja untuk terus jet lag, agar ketika aku kembali ke jerman, aku tetap bisa menyesuaikan diri dengan waktu sekitar.
Ok, begitulah cerita singkat ku di Indonesia. Aku kembali ke Jerman dengan membawa beberapa buku; novel, buku tentang Islam, motivasi, dan lain-lain. Dari sekian banyak novel yang aku bawa, salah satunya adalah "Bidadari-bidadari Surga" karya Kak Tere Liye. Aku tahu buku itu sudah terbit bertahun-tahun lalu. Biar saja kalian menganggapku sebagai orang yang tertinggal. Biar. Memang itulah kenyatannya. Aku terbang ke Jerman tahun 2012, dan pulang selama 10 hari pada tahun 2015. Banyak sekali yang telah aku lewatkan. Inilah yang sebenarnya membuatku kurang nyaman hidup disini. Aku seolah-olah telah "mengubur" dalam-dalam hobi ku yang telah aku lakoni sejak aku kecil: membaca. Tentu saja aku bisa membaca buku-buku itu di internet, e-Book, atau apalah sebutannya. Namun kegiatan disini seakan membantuku untuk "melupakan" hobiku itu. Ok, itu hanya alasanku saja. Intinya, aku bahagia karena bisa membaca novel lagi, dan yang paling membahagiakan adalah, novel itu disusun dalam bahasa ibuku. Betapa sengsaranya jika aku harus membaca novel dalam bahasa Jerman. Bukannya tidak bisa, tapi membaca novel dalam bahasa ibumu akan memberikan energi positiv yang jauh lebih besar dari pada membaca dalam bahaasa asing.
Singkat cerita, aku berhasil menyelesaikan novel itu dalam kurun waktu dua hari, di tengah-tengah kesibukanku sebagai pelajar, tentunya. Ada banyak hikmah yang bisa aku petik dari novel karya Tere Liye itu. Seperti hal nya Tere Liye yang begitu memuliakan Kak Laisa, akupun mulai menjadikan tokoh utama dalam novel itu sebagai salah satu teladanku setelah Rasul, sahabat-sahabatnya, orang tuaku, dan beberapa sahabat terbaikku. Tere Liye berhasil membakar semangatku. Kalau Kak Laisa saja bisa mengorbankan segalanya untuk adik-adiknya, mengapa aku tidak? Kalau Kak Laisa yang latar belakangnya hanya lulusan kelas 4 SD bisa menyekolahkan adik-adiknya hingga mereka semua menjadi "orang", mengapa aku yang sudah mengantungi ijazah SMA tidak bisa memberikan yang lebih baik untuk adik-adikku? Jikalau Kak Laisa bisa mengorbankan perasaan cintanya untuk lawan jenis demi kebahagiaan adik-adiknya, mengapa aku yang bisa merasakan indahnya perasaan itu harus terus-menerus galau menunggu "Dia" datang? Jikalau Kak Laisa selalu datang tepat waktu untuk adik-adiknya, maka aku tidak boleh membuat ketujuh adikku menunggu. Tidak boleh. Ah, sekarang aku menemukan sisi buruk dari diriku yang sama sekali tidak boleh ditiru oleh adik-adikku.
Aku teringat ketika aku di Karawang, membantu ummi mengerjakan pekerjaannya sebagai ibu rumah tangga, guru, dan wali asrama. Pekerjaan mulia yang belum tentu semua ibu bisa melakukannya. Hari pertama aku di Karawang, santriwati itu berkumpul di rumah kami ba'da sholat subuh untuk bertemu diriku. Macam selebritis saja. Belakangan aku baru tahu, bahwa para santriwati itu telah menjadikanku sebagai teladan mereka. Allah, hatiku sangat miris dibuatnya. Mengapa aku yang biasa saja ini, bisa menjadi amat baik di mata para penghapal Qur'an itu? Aku merasa diriku sangat hina, ya Rabb. Kau tutupi keburukanku di depan mereka, Kau jadikan aku "seseorang" untuk mereka, betapa sayangnya Engkau padaku, ya Rabb.
Saat ini aku memang hanya seorang kakak yang sedang menuntut ilmu di Jerman. Tapi kelak aku ingin seperti Kak Laisa, yang bisa menyekolahkan adik-adiknya. Sudah cukup derita ummi dan abah selama ini, kini giliranku yang memegang kendali. Maka, sebelum itu semua tejadi, aku yang harus menjadi "seseorang" terlebih dahulu. Sehingga aku bisa menjadi Kak Laisa.
Maafkan teteh, adik-adikku. Teteh belum bisa menjadi kakak yang baik untuk kalian. Seperti hal nya Kak Laisa yang mempersilakan Dalimunte untuk melangkahinya, maka aku pun mempersilakan kamu, Naufal, untuk menyegerakan menyempurnakan separuh agamamu. Tak perlu menunggu teteh. Naufal sudah pantas untuk menjalaninya. Pesan teteh, laksanakan ritual itu ketika teteh di Indonesia, janji? :)
Untuk Fatimah, pergilah ke Jepang, ikutilah program winter course itu. Tak peduli berapapun uang yang kau butuhkan untuk mengikutinya. Teteh akan berusaha untuk memenuhi impianmu selama ini. Kecintaanmu pada Jepang, kelak akan membawamu menuju manusia hebat. Lihatlah masyarakat Jepang yang begitu disiplin, hormat, lembut dalam bertutur kata. Waktu yang akan menjawab semua goressan tinta yang telah kita tempel di dinding kamar kita, apakah akan tercapai atau belum tercapai. Ingat apa kata Kak Laisa, "Kerja keras...kerja keras...kerja keras! Hanya dengan itu kau bisa sukses!!"
Untuk Kak/Pak/Uda Tere Liye.... terima kasih telah menulis novel luar biasa itu, novel yang telah membakar semangatku untuk terus menuntut ilmu, serta menyadarkanku, bahwa jodoh hanya kuasa Allah. Sebanyak apapun aku menemukan diriku dalam kegalauan tentang jodoh, sebanyak itu pula aku merasa waktu ku telah terbuang sia-sia. Dan, untukmu yang selama ini berlari-lari dalam pikiranku, sadar ataupun tidak... aku hanya mengatakan ini sekali, jangan minta aku untuk mengulanginya. Aku mencintaimu, maka jika kau memang mencintaiku, jangan permainkan hati ini dan segera jemput aku. Tak peduli bagaimana caramu menjemputku. Dan, jika kau tidak mencintaiku, beri aku ruang untuk menjaga jarak denganmu, agar aku bisa kembali berkonsentrasi pada daftar mimpiku...
4 comments:
Luar biasa.....:)
Salam kenal kakak yg baik:)
salam kenal juga mba Fitri :)
MasyaAllah keren ka :)
Semoga bisa menjadi bidadari-bidadari di surganya Allah ya ka :)
kamu juga, aamiin yaa Rabb ;)
makasih ya btw udh baca blog saya :)
Post a Comment