Shared memories

Sunday, May 15, 2016

Part I : Undangan makan siang

Aku berlari-lari kecil, berusaha menggapai gedung tua yang berdiri 30 meter di depanku. Hujan ini pertanda akan adanya pergantian musim, dari musim dingin menjadi musim semi. Aku menginjak kaki di gedung tua itu. Asrama mahasiswa yang sudah dibangun sejak tahun 80-an. Aku mengambil kunci dari tas kecilku, lalu membuka kotak pos yang terletak di depan pintu asrama. Kosong. Aku kembali mengunci kotak pos tersebut, membuka pintu asrama, dan melangkah menuju lift. Meski gedung tua, gedung ini sudah memiliki lift, sesuatu yang jarang ditemui di indonesia. Aku menekan tombol naik di pintu lift tersebut. Beberapa menit kemudian terbukalah pintu lift tersebut. Keluar seorang pria dari lift, menggunakan jaket hitam dilengkapi penutup kepala. Jaketnya ia naikkan, hingga menutupi setengah wajahnya. Aku senyumi pria tersebut -sesuatu yang tidak lazim dilakukan oleh seorang wanita kepada pria lain-.



Namun aku dibesarkan di lingkungan yang menjunjung tinggi keramahan. Sudah jadi keseharianku, memberi senyum dan sapa pada semua orang yang kutemui, di mana saja, kapan saja. Selain itu, aku tinggal di negeri dimana Islam menjadi agama minoritas. Apaagi akhir-akhir ini isu ISIS seakan memengaruhi pandangan masyarakat asli terhadap Islam. Dan aku, bagaimanapun, adalah agen. Agen Islam yang harus menunjukkan apa itu Islam sebenarnya, bukan yang mereka lihat di TV, atau yang mereka dengar di radio, atau bahkan yang mereka baca di surat kabar maupun elektronik. Aku melangkah mamasuki lift. Kami pun berpapasan. Pada saat itulah pria berjaket hitam itu menyebut namaku. Pelan, tapi aku bisa mendengarnya dengan jelas. Aku terhenyak. Kaget dengan apa yang baru saja aku dengar. Ku tahan pintu lift yang ingin tertutup, lalu ku beranikan diri untuk bertanya, "Siapa ya?" Tanyaku dalam bahasa Indonesia. Mengapa aku yakin bahwa dia bukan orang asing? Sebab,  teman laki-laki yang aku kenal yang tinggal di asarama ini hanya satu orang. Dan, teman sekelas pria yang mungkin orang Maroko, atau orang asing lainnya, hanya segelintir yang tinggal di asrama ini, sisanya di asrama lain. Jadi, wajar kalau aku yakin bahwa dia adalah orang melayu yang mengenalku.
"Fahri" jawabnya sederhana. 
"Ach so. Kirain siapa. Mau kemana?" Tanyaku lagi.
"Pergi ke gym" jawabnya singkat.
"Okay" ucapanku itu mengakhiri percakapan diantara kami. Sosoknya hilang dimakan oleh pintu lift. Itulah kali pertama aku berjumpa dengan Fahri. Meski sempat berbincang dalam WhatsApp, kami belum pernah berjumpa sama sekali.
Aku ingat percakapan kami di WhatsApp beberapa hari lalu. Bulan ini bulan Pebruari. Pertengahan Pebruari, tepatnya. Libut winter semester untuk para mahasiswa di Bavaria ini. Biasanya, para mahasiswa menggunakan liburan ini sebagai kesempatan untuk mencari tambahan uang. Tapi tidak semua mahasiswa begitu. Aku beritahu, ya. Selama tiga tahun lebih aku tinggal di Jerman ini, ada beberapa tipe mahasiswa dengan apa yang dilakukan selama libur semester, terlepas dari winter semester -yang hanya satu bulan- ataupun summer semester.
Tipe pertama, mahasiswa yang SELALU pulang ke tanah air. Tipe ini biasanya adalah mereka yang punya uang lebih, baik uangnya sendiri (dari hasil bekerja), maupun uang orang tua nya. Mereka sangat cinta tanah air, dan rindu keluarga, tentunya. 
Tipe kedua, adalah tipe TRAVELLERS sejati. Mereka pikir, mumpung ada di Jerman, sekalian saja jalan-jalan keliling Eropa. Atau, alasan kuat lainnya adalah, sudah satu semester penuh belajar, tak ada salahnya jika satu bulan dihabiskan untuk menikmati indahnya dunia, ataupun menikmati indahnya jomblo (?). Logis, bukan? 
Tipe yang ketiga, adalah tipe pekerja keras. Dalam hal ini para mahasiswa yang sudah belajar selama satu semester penuh, tanpa liburan dan tanpa bekerja, biasanya akan mulai menipis keuangannya. Maka, mereka memanfaatkan liburan semester untuk bekerja. Jangan salah, menjadi Ferienjobber (orang yang bekerja pada saat liburan), gajinya bisa setara dengan mereka yang bekerja tetap di tempat tersebut. Gaji bersihnya berkisar antara 1000-2000 €! Tapi itu tergantung dimana mereka bekerja, dan apa yang mereka kerjakan. Tentu saja perusahaan besar seperti Audi, BMW, Mercedes, Siemens, Bosch, dan lainnya -yang tidak bisa aku sebutkan satu persatu- menjanjikan masa depan yang lebih cerah. Enaknya lagi, sekali kita masuk dalam perusahaan tersebut, walau awalnya hanya jadi Ferienjobber, nantinya bisa melakukan KKN disana, atau nanti setelah selesai study bisa ditarik juga oleh perusahaan. Mereka yang bekerja saat liburan, bisa juga jalan-jalan di sela-sela kesibukannya, misal saat weekend. Jadi, sekali mendayung, 2-3 pulau terlampaui. Sudahlah kerja, bisa dapat link ke perusahaan, dapat uang, bisa jalan-jalan pula. Perfecto!
Tipe keempat -dan mungkin juga tipe terakhir menurut analisaku- adalah tipe K-Popers, atau Ottaku atau apalah yang lain. Intinya, mereka menghabiskan liburan untuk "balas dendam" karena tertinggal drama korea yang lagi populer, atau tertinggal anime yang lagi seru-serunya di tonton. Alasan mereka juga sama seperti tipe-tipe yang lain, sudah satu semester penuh belajar, tak bekerja dan tak bisa jalan-jalan, tertinggal drama terbaru pula! Biasanya tipe ini adalah mereka yang belum ada rizqi untuk pulang ke tanah air maupun jalan-jalan. Sudah cari kerja tapi pada akhirnya tidak mendapatkan apa yang diinginkan. Dari pada sakit hati karena tidak bisa melakukan semua diatas, lebih baik menghibur diri sendiri dengan menonton yang disukainya. 
Kalau kalian bertanya, tipe yang manakah aku? Maka aku akan menjawab, semua kecuali nomer satu. Sebab, selama tiga tahun disini, aku baru pulang satu kali, itupun tepat tiga tahun setelah aku terbang dari Soekarno-Hatta November 2012 lalu. Inginnya aku juga terbang ke tanah air, tapi apa daya. Keadaan berkata lain. Tapi, dari ketiga tipe yang aku pilih, aku lebih mengutamakan yang nomer tiga; menjadi Ferienjobber. Disela-sela bekerja, aku menikmati drama korea di malam hari, atau jalan-jalan (meski hanya seputar Bavaria) saat weekend. Meskipun hanya satu provinsi,  Bayern atau Bavaria adalah provinsi yang dilewati pegunungan Alpen. Jadi jangan kaget jika panorama di Bavaria ini adalah yang paling best (menurutku) dari provinsi yang lain. Dan itu menjadi salah satu alasanku untuk menetap di Bayern. Mahal memang, provinsi ini jika dibanding provinsi lain. Disaat mahasiswa di provinsi lain punya Semesterticket yang berlaku untuk satu provinsi, Bayern hanya punya Semesterticket yang berlaku hanya untuk satu kota, atau beberapa kota. Maklum, ukuran provinsi ini dan provinsi sebelah memang besar. Jadi jangan bandingkan Bayern dengan Berlin, jauh sekali, bung! Aku berpikir, kalaupun pemerintah Bayern akan menetapkan Semesterticket untuk satu provinsi, biaya yang harus ditanggung para mahasiswa bisa lebih dari 500 €. Mengapa tidak? Provinsi Hessen yang luasnya tidak mencapai 1/3 dari Bayern saja sudah menetapkan Semesterticket yang harus dibayar para mahasiswa tiap semesternya seharga 200 € lebih. Ohya, Semesterticket adalah tiket untuk para mahasiswa, biasanya bisa kita gunakan untuk naik kereta, bus, subway, dan lain-lain. Semesterticket ini sifatnya kudu, mesti, harus. Karena mahasiswa di Jerman ini ibarat raja. Banyak sekali discount untuk mereka. Mulai dari kontrak HP, sampai harga makanan. Uang per semester sudah dihapuskan sejak 2013 lalu. Dulu, setiap mahasiswa wajib membayar uang semester sebesar 500 €. Sekarang tidak lagi. Sebagai gantinya, kita harus membayar Semesterticket itu, yang menurutku adalah kelebihan dari sistem pendidikan disini. Terlepas dari itu semua, Bayern adalah salah satu dari Freistaat, yaitu provinsi yang tidak bergantung pada provinsi lainnya. Disaat Berlin sebagai ibu kota mempunyai hutang yang sangat besar, Bayern selaku Freistaat "menambal" hutang-hutang provinsi lain. Jadi jangan kaget kalau disini pajak mahal, semua mahal. So, I'm so proud to be Bavarian! Sorry Berliner,  jangan tersinggung ya karena aku singgung soal hutang tadi, tapi memang itulah kenyataannya. 
Okay, balik lagi ke inti permasalahan. Percakapan kami di WhatsApp bermula saat salah satu kawan aku, Anam, mendapat kerja di salah satu perusahaan yang bergerak di bidang Logistik. Ia tahu, bahwa aku ingin sekali bekerja di liburan ini. Maka, kamis siang mendaratlah pesan itu. Pesan yang dikirim oleh Fahri, yang berniat untuk mengunjungi perusahaan tempat Anam bekerja.
"Assalamu'alaikum." sapanya memulai percakapan. 
"Wa'alaikumsalam. " jawabku. 
"Ini saya, Fahri. Anam bilang, kamu mau kerja juga di tempatnya Anam?" Tanyanya tanpa ba-bi-bu.
"Iya, Fahri. Lumayan nambah-nambah uang jajan." Kataku.
"Tadi aku udah kesana. Tapi banyak banget pelamar kerja disana. Jadi tadi mba-mba di informasi bilang, hari senin sebelum datang, lebih baik telepon dulu, memastikan kalau lowongannya belum diisi." Jelasnya panjang lebar. 
"Ach so. Okay. Kabari aja yah senin nanti." 
Begitulah kira-kira isi percakapanku dengan Fahri.
                                                                        ***
Ini hari ahad, temanku yang non-islam sedang menginap di kamarku yang luasnya -/+ 18 m2 ini.  Pukul 10 tadi ia pergi ke gereja, dan aku? Sedang melihat-lihat isi kulkas, apa yang bisa aku masak hari ini, ketika tiba-tiba ponselku berdering. Aku mengambil telepon genggam itu dan mengangkat telepon dari Anam.
"Ya hallo, kenapa, Nam?" Tanyaku langsung.
"Assalamu'alaikum Nia." Katanya di seberang sana.
"Wa'alaikumsalam. Lupa salam tadi. Kenapa?" 
"Si Fahri ngajak kamu makan siang tuh di rumah dia." Anam menjelaskan maksud teleponnya. Aku mengernyitkan dahi. Fahri? Mengundang aku makan siang? Kenapa? 
"Dia ngajak aku? Yakin?"
"Iya dia ngajak kamu. Mau ikut nggak?" Tanyanya lagi. Aku semakin mengernyitkan dahi. Fahri kan punya nomer HP ku, dan kami juga pernah berbincang di WhatsApp, kenapa pula dia harus mengajakku makan siang melalui Anam?
"Okay. Jam berapa?" 
"Katanya sih jam 12an."
"Ok deh. Bareng ya kesananya."
"Iya gampang. Diatas ini kan rumah dia."
"Sip. Bilang-bilang kalo mau berangkat."
"Ok. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam." Aku menutup telepon tersebut. Aku melirik jam di dinding. Pukul 11:27. Celaka, kalau aku tidak bersiap-siap sekarang, aku akan telat datang ke rumah Fahri. Apalagi, Fahri tinggal di asrama atas, yang dekat dengan kampus. Aku segera bersiap. Pukul 12:00. Temanku belum juga pulang dari gereja. Aku takut, kalau temanku datang dan mendapati aku dan Anam sedang makan siang bersama Fahri, dia akan merasa dirinya tidak ada. Sebab Fahri hanya mengundang aku, bukan kawanku itu. Namun, jika aku telat datang ke acara makan siang tersebut, apa yang akan di pikiran Fahri nanti? 'Orang indonesia emang rajanya jam karet deh.' Akhirnya aku memutuskan untuk menelepon Anam.
"Assalamu'alaikum. Kamu dimana? Kita berangkat jam berapa? Aku masih nungguin Icha nih, dia belum balik gereja." Jelasku langsung pada Anam.
"Santai aja lah Ni, kan si Fahri tinggal di lantai 6." Aku ternganga. Jadi, yang dimaksud Anam dengan 'atas' tadi bukan asrama atas yang dekat dengan kampus, melainkan 'atas' lantai 6? 'Ya ampun, Ni. Kok bisa sih kamu nggak sadar kalo Fahri tinggal satu gedung sama kamu?' Aku membatin sambil memikirkan kebodohanku. 
"Okay, bilangin Fahri, aku telat. Aku nungguin Icha dulu." Pintaku pada Anam.
"Okay. Sampai nanti. Assalamu'alaikum." Anam segera menutup telepon tanpa sempat aku jawab salamnya. 
"Wa'alaikumsalam." Jawabku sendiri.
Bel kamarku dibunyikan, aku segera beranjak menuju pintu dan membuka pintu kamarku. Icha datang dengan muka berseri-seri.
"Maneh teh mau kemana?" Tanya Icha segera setelah melihatku berpakaian bukan pakaian rumah.
"Mau keatas bentar. Maneh dirumah aja kan? Gak kemana-mana?" Tanyaku.
"Ya ho'oh atuh. Aing capek." Jawabnya. Aku segera menuju lift. Sebuan pesan mendarat di HPku. Dari Fahri. 
"Lantai 6 no. 35." Demikian bunyi pesan singkat tersebut. Aku menekan tombol 6 pada tombol lift. Lalu berjalan menuju kamar nomer 35. Terdengar suara canda dan tawa. Rupanya pintu kamar Fahri tidak ditutup rapat. Aku membunyikan bel kamar tersebut. Fahri membukakan pintu. Inilah kali pertama aku melihat wajah Fahri. Sebab, dalam WhatsApp ia hanya menampilkan tokoh kartun sebagai profile picture nya. Dan kemarin, saat kami berjumpa (tanpa sengaja) di lift, aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas, karena jaket yang menutupi hampir setengah wajahnya.
"Silakan masuk, Nia." Tawarnya. Aku melangkah masuk ke kamarnya. 
"Maaf telat. Nunggu temen tadi pulang gereja."
"Santai aja. Makanan masih banyak kok. Ohya, kenalin ini Ijul, senior aku. Aku buat makan siang ini karena dia mau pergi ke Korea jam 2 nanti." jelas Fahri. Aku mengangguk-angguk. Pantas saja ia buat makan siang ini, kawannya sendiri akan berlibur ke tempat jauh. Jelas itu jauh, sebab kita semua sekarang sedang menempuh pendidikan di Jerman, di benua Eropa, bukan di Asia. 
"Kenalin juga, ini jiran saya, datang dari Thailand, namanya Iya." sambung Fahri. Lagi-lagi aku hanya manggut-manggut. 
"Emang kamu tau apa itu jiran, Ni?" tanya Anam ketika melihat aku menganggukkan kepala. 
"Tau lah, tetangga kan?" tanyaku pada Fahri.
"Eh, kok kamu tau bahasa melayu?" Anam bingung.
"Lha, kan bahasa Indonesia tinggi kan bahasa melayu, menurutku lho ya.." sahutku. Giliram Anam yang kali ini manggut-manggut. 
"Ayo, makan." tawar Fahri sambil menyodorkan piring yang sudah berisi nasi dan lauk-pauk besarta sayur. Aku menerima piring itu dan memulai untuk makan. Fahri dan Ijul, yang memang bukan orang Indonesia berbincang dalam bahasa Melayu. Aku mendengar apa yang mereka perbincangkan. Waktu berjalan sangat cepat. Ijul pamit untuk berangkat menuju stasiun. Aku dan yang lain mendo'akan agar ia selamat sampai tujuan, dan kembali ke Jerman dengan selamat.

No comments: