Ini benar-benar terjadi. Sesuatu yang sebelumnya tidak pernah kurasakan. Sesuatu yang kusangka rasanya tidak seindah ini. Sesuatu yang membuatku bertahan meski ada air mata.
Dia hadir membawa sejuta harapan, merubah duaniaku menjadi lebih indah dan berwarna. Aroma parfumnya menggoda indra penciumanku. Suaranya yang lembut dan merayu menyengat akal sehat. Saat tangannya menggenggam jemariku, kurasakan debar hebat di jantungku. Kakiku merasa lemas saat dia menatapku dengan mata indahnya. Lesung pipi yang terlihat jelas ketika dia tersenyum membuatku sangat terpesona. Serta rahang yang mempertegas garis wajahnya.
Entah apa yang ada pada dirinya yang selalu membuatku terpesona. Debar jantung yang lebih hebat dari biasa selalu kurasakan setiap kali Ia mengimamiku solat. Aku terpesona ketika Ia melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran yang terdengar indah dan menenangkanku. Kagum dengan pemikiran-pemikirannya. Selain rupanya yang tampan nan rupawan, aku sungguh terpesona akan agamanya. Sungguh aku ingin dia menjadi imam untukku dan anak-anakku kelak. Tak salah lagi, aku telah jatuh cinta kepadanya…sosok paling indah yang tertangkap oleh hatiku.
Cinta itu memang sulit ditebak. Ketika cinta sudah menyentuh hati, maka akan terus melekat bagai parasit yang sulit untuk dienyahkan. Seperti cintaku padanya yang berkali-kali ku coba untuk menahannya agar tidak terlalu dalam perasaanku padanya namun tak pernah berhasil. Bagaimana bisa aku berhasil bila caranya meminta hatiku dengan amat manis dan menghancurkan benteng pertahanan yang susah payah aku buat. Dia mampu merubah ku menjadi jauh lebih baik, mengajarkan ku bersikap sebagaimana wanita muslimah, mendidiku dalam bergaul dengan cara islam. Dari sekian banyak cinta yang datang, hanya dia yang berhasil mengetuk hati ini. Hanya dia yang bisa membuka gembok hati ini dengan kunci cintanya.
Aku menyerah, kubiarkan rasa cintaku padanya ini tumbuh subur. Aku bahagia menikmati setiap hari yang ku lewati bersamanya. Hingga aku lupa bahwa semanis apapun coklat dan gula selalu mempunyai tanggal kadaluarsa. Aku tersadar aku telah terlalu berharap darinya. Aku lupa bahwa dia juga manusia biasa yang bisa tergoda. Hati yang telah ku titipkan padanya tak selamanya bisa dia jaga. Sekuat apapun aku menahannya tak akan mampu membuat dia untuk tetap disisiku. Kubiarkan dia pergi, menghampiri seorang yang dia suka. Aku berkata “aku baik-baik saja” hanya untuk menegaskan pada diriku bahwa aku bersiap menjalani hari-hari ku tanpanya lagi.
Cinta memang tidak bisa dipaksakan. Untuk disatukan ataupun dipaksakan. Cinta juga tidak bisa disalahkan karena cinta hadir disaat kita belum yakin apakah ini waktu yang tepat untuk cinta datang. Atau dipaksa pergi saat kita sudah tak bisa bersamanya lagi. cinta memang diciptakan untuk dikejar dan diperjuangkan. Bukan untuk dibiarkan menjadi sia-sia. Cinta membutuhkan pengorbanan. Cinta membutuhkan sebuah aksi nyata untuk merebut dan mempertahankannya agar ia tetap berada dihati.
Aku tidak pernah menyesal telah jatuh hati padanya, karena dia merubahku menjadi jauh lebih baik. Aku pun tak berusaha menghapus semua kenangan bersamanya. Ku biarkan kenangan ini menemani perjalanan hidupku. Ku biarkan waktu yang akan mengobati luka hatiku.
Dan, kupersembahkan rasa cinta ini untukmu. Maaf karena hingga saat ini aku masih menyayangimu dan belum bisa untuk melupakanmu.
Ps : postigan ini adalah curhatan hati seorang Ratih Chairunnisa..
No comments:
Post a Comment