Kalau ada yang bilang aku membencimu, itu bohong. Kalau ada yang bilang aku tak peduli padamu, itu juga bohong. Kenyataannya adalah, aku mencintaimu melebihi cintaku pada diriku sendiri.
Namun kejadian minggu lalu membuatku berpikir lagi untuk terus mencintaimu. Aku ingat, saat kau datang ke rumahku dua tahun lalu. Kau temui orang tuaku dengan percaya diri. Namun saat itu kau hanyalah seorang mahasiswa yang belum berpenghasilan tetap. Walau bukan berarti orang tuaku menolakmu, kau merasa gagal untuk "memilikiku". Tidak, itu tidak benar. Orang tuaku hanya mau memberikan yang terbaik untuk puteri tertuanya. Mereka tidak ingin puterinya jatuh ke tangan pria yang salah. Maka dari itu, mereka memberi tiga syarat utama kepadamu. Ya, hanya tiga. Sedikit bukan?
Beberapa bulan setelah kau datang ke rumahku, kau segera melengkapi dua dari tiga syarat pemberian orang tuaku. Akupun lega, ternyata kau benar mencintaiku. Kau berusaha mendapatkanku. Tinggal satu syarat lagi yang belum kau penuhi; Tarbiyah.
Bagaimana mungkin seorang pria bisa menuntun istrinya ke Surga-Nya tanpa tarbiyah? Bagaimana mungkin sebuah keluarga dapat kokoh terbangun tanpa tarbiyah sebagai pondasinya? Bagaimana? Katakan padaku jika memang ada alasan untuk tidak bertarbiyah.
Aku mencintaimu, dan kau mencintaiku. Itu yang aku tahu. Ya, hanya itu. Sampai tiba saatnya kita harus terpisah oleh jarak da waktu. Tahun lalu, aku memutuskan untuk pergi kesini, ke Jerman. Memang bukan keputusan yang mudah, jika ku ingat ku harus meninggalkanmu di tanah air kita tercinta. Tapi demi ilmu, semua jalan akan ku tempuh.
Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan ku jalani dengan canda tawa, bahkan air mata. Hei, ini negeri orang. Aku sendiri disini. Tanpa kamu. Ya, tanpa kamu. Tak terasa sudah tiga bulan aku disini. Lalu, aku berharap ada kabar gembira datang dari bibirmu. Apalagi kalau bukan tentang syarat yang diberikan orang tuaku?
Namun harapanku pupus, kau datang dengan tangan kosong. Hampa. Kau belum bertarbiyah. Sudah tiga tahun lalu orang tuaku memberi syarat itu untukmu. Lalu? Apakah waktu tiga tahun tidak cukup untukmu untuk sekedar melengkapi syarat yang diberikan orang tuaku? Berapa lama aku harus menunggumu?
Bahkan kau tahu cita-citaku, menikah di usia 21 tahun. Dan hei! Tahun ini usiaku tepat 21 tahun! Lalu bagaimana denganmu? Bagaimana dengan kita? Haruskah pupus begitu saja? Tak bisakah kau lebih berusaha untuk melengkapi syarat terakhir itu?
Lalu muncul satu pertanyaan dibenakku; "Hei, apa kau sungguh mencintaiku?" Pertanyaan yang konyol, bukan? Tentu saja kau mencintaiku. Tapi, tunggu! Apa bukti bahwa kau mencintaiku? Oke, kau sudah berusaha datang ke orang tuaku. Oke, kau sudah melengkapi dua syarat dari orang tuaku. Lalu, mengapa syarat terakhir belum? Apakah sesulit itu untuk mendapatkanku? Nyatanya tidak. Hanya satu syarat itu dan kau bisa datang kembali kepada orang tuaku. Lalu dengen suka hati mereka akan memberikanku padamu, pada pria yang menurutku tepat.
Namun kenyataannya kau tidak mencintaiku, bukan? Ya! Kau tidak mencintaiku sepenuhnya. Kau berleha-leha dalam menyempurnakan syarat itu. Kau larut dalam pekerjaan dan studimu. Sekarang, apa yang harus aku lakukan jika kau sudah tak mencintaiku lagi? Haruskah aku membuang cintaku padamu? Tidak, tak semudah itu membuang cinta yang sudah tumbuh selama empat tahun.
Sekarang, yang bisa aku lakukan hanya diam. Aku masih mencintaimu. Aku masih berharap kabar baik itu datang dari mulutmu sebelum usiaku genap 21 tahun. Ya, sekarang aku tahu apa yang harus kulakukan; Mencintaimu dalam diam.
Ingolstadt, 05 Maret 2013 14:09
created by : Shohwah Bosnia Maulidiyah (@bosniaaaaa)
created by : Shohwah Bosnia Maulidiyah (@bosniaaaaa)
No comments:
Post a Comment