Ramadhan tinggal 1 hari lagi. Tak
terasa sudah lebih dari tujuh bulan saya merantau ke negeri Hitler ini sebagai
Aupair. Jujur, ini adalah ramadhan pertama saya di negeri orang. Selama hampir
dua puluh tahun saya hidup, saya menjalani ramadhan di tanah air tercinta.
Rasanya ada yang kurang. Tak akan ada ummi, tak akan ada abah, tak akan ada
tujuh adik saya disini. Tak akan ada suara galon atau gendang yang dipukul tiap
fajar, guna membangunkan masyarakat untuk sahur. Tak akan ada jadwal sekolah
atau kantor yang dipercepat, guna membiarkan siswa/karyawan berbuka puasa di
rumah. Tak akan ada jalanan yang padat dengan orang “ngabuburit” sebelum
berbuka puasa. Tak akan ada aneka macam kuliner yang didagangkan sepanjang
jalan raya untuk pengendara motor atau mobil. Tak akan ada iklan-iklan di televisi yang menawarkan
berbagai macam makanan dan minuman sebelum waktu buka puasa tiba. Tak akan ada
masjid-masjid yang penuh sesak dengan orang yang berbondong-bondong melakukan
tarawih atau i’tikaf. Tak akan ada mall-mall yang penuh dengan lautan manusia
yang berbelanja pakaian baru guna menyambut hari nan fitri. Tak aka nada gema
takbir yang menggelora pada malam sebelum Idul Fitri tiba..
Jauh dari semua itu, Negara ini
seakan “mati”. Penduduk muslim pun hanya beberapa persen. Itupun belum termasuk muslim yang „taat“. Saya
dengar cerita teman saya, mantan Aupair. Keluarga asuhnya muslim, datang dari
Turki. Tapi ramadhan tahun kemarin mereka sama sekali tidak berpuasa. Alasannya
macam-macam dan tak masuk akal. Kerja lah, tak bisa konsentrasi lah, dan
lain-lain.
Tapi saya yakin, Allah bersama saya.
Alhamdulillah saya diberi “hadiah” dari Allah berupa keluarga asuh yang baik,
yang taat kepada Allah. Dengan adanya mereka, saya yakin bisa berpuasa
selama kurang lebih Sembilan belas jam. Memang terdengar berat. Sembilan belas
jam, bagi saya pendatang baru, berpuasa selama itu bukanlah hal yang mudah.
Oleh karena itu saya berlatih dan berlatih, supaya pada hari H, saya bisa
menjalankannya dengan optimal. Sembilan belas jam, dengan terik matahari selama
itu, subhanallah. Saya yakin jika dijalankan dengan ikhlas, pahalanya akan
lebih besar. Tapi bukan berarti yang berpuasa dua belas jam pahalanya lebih sedikit
loh, hehehe.
Saya sendiri belum yakin, akan
melakukan tarawih di masjid atau dirumah, mengingat isya datang pukul setengah
dua belas malam, lalu pukul setengah tiga harus sudah mulai sahur. Pun saya
belum tahu, apakah boleh menjamak isya di maghrib lantaran malam yang terlalu
pendek? Murabbiyah saya bilang, kami boleh menjamak isya di maghrib, dengan
catatan harus segera tidur setelah sholat isya. Mengapa? Karena jikalau kita
menunggu isya, alamat subuh tertinggal. Karena pukul lima pagi sudah masuk
waktu dhuha. Allahu 'alam.
Target saya di ramadhan tahun
ini, bisa mengkhatamkan Al-Qur’an dua kali, atau tiga kalau perlu, menghitung
panjangnya siang. Lalu, saya ingin mengajarkan keempat adik asuh saya membaca
Qur’an dengan baik dan benar. Meskipun mereka berkewarganegaraan Mesir dan
lancar berbahasa Arab, namun untuk hukum-hukum tajwid sama sekali belum benar. Insya Allah cukup dua itu target
saya untuk tahun ini.
Bismillah, saya mantapkan diri dan hati untuk
terus beribadah kepada-Nya. Di bulan yang penuh berkah ini, mari berlomba-lomba
dalam kebaikan. Yang sholatnya masih bolong-bolong, segera disempurnakan. Yang
puasanya masih setengah hari, ayo digenapkan. Masa mau kalah sih sama
muslimin disini, yang puasa hampir Sembilan belas jam? So, selamat berpuasa dan
Herzlich willkommen, Ramadhan! :D
By Shohwah Bosnia Maulidiyah
(@bosniaaaaa)
No comments:
Post a Comment