Shared memories

Monday, July 8, 2013

Ramadhan tiba, hatiku gembira :D

Ramadhan tinggal 1 hari lagi. Tak terasa sudah lebih dari tujuh bulan saya merantau ke negeri Hitler ini sebagai Aupair. Jujur, ini adalah ramadhan pertama saya di negeri orang. Selama hampir dua puluh tahun saya hidup, saya menjalani ramadhan di tanah air tercinta. Rasanya ada yang kurang. Tak akan ada ummi, tak akan ada abah, tak akan ada tujuh adik saya disini. Tak akan ada suara galon atau gendang yang dipukul tiap fajar, guna membangunkan masyarakat untuk sahur. Tak akan ada jadwal sekolah atau kantor yang dipercepat, guna membiarkan siswa/karyawan berbuka puasa di rumah. Tak akan ada jalanan yang padat dengan orang “ngabuburit” sebelum berbuka puasa. Tak akan ada aneka macam kuliner yang didagangkan sepanjang jalan raya untuk pengendara motor atau mobil. Tak akan  ada iklan-iklan di televisi yang menawarkan berbagai macam makanan dan minuman sebelum waktu buka puasa tiba. Tak akan ada masjid-masjid yang penuh sesak dengan orang yang berbondong-bondong melakukan tarawih atau i’tikaf. Tak akan ada mall-mall yang penuh dengan lautan manusia yang berbelanja pakaian baru guna menyambut hari nan fitri. Tak aka nada gema takbir yang menggelora pada malam sebelum Idul Fitri tiba..


Jauh dari semua itu, Negara ini seakan “mati”. Penduduk muslim pun hanya beberapa persen. Itupun belum termasuk muslim yang „taat“. Saya dengar cerita teman saya, mantan Aupair. Keluarga asuhnya muslim, datang dari Turki. Tapi ramadhan tahun kemarin mereka sama sekali tidak berpuasa. Alasannya macam-macam dan tak masuk akal. Kerja lah, tak bisa konsentrasi lah, dan lain-lain.

Tapi saya yakin, Allah bersama saya. Alhamdulillah saya diberi “hadiah” dari Allah berupa keluarga asuh yang baik, yang taat kepada Allah. Dengan adanya mereka, saya yakin bisa berpuasa selama kurang lebih Sembilan belas jam. Memang terdengar berat. Sembilan belas jam, bagi saya pendatang baru, berpuasa selama itu bukanlah hal yang mudah. Oleh karena itu saya berlatih dan berlatih, supaya pada hari H, saya bisa menjalankannya dengan optimal. Sembilan belas jam, dengan terik matahari selama itu, subhanallah. Saya yakin jika dijalankan dengan ikhlas, pahalanya akan lebih besar. Tapi bukan berarti yang berpuasa dua belas jam pahalanya lebih sedikit loh, hehehe.

Saya sendiri belum yakin, akan melakukan tarawih di masjid atau dirumah, mengingat isya datang pukul setengah dua belas malam, lalu pukul setengah tiga harus sudah mulai sahur. Pun saya belum tahu, apakah boleh menjamak isya di maghrib lantaran malam yang terlalu pendek? Murabbiyah saya bilang, kami boleh menjamak isya di maghrib, dengan catatan harus segera tidur setelah sholat isya. Mengapa? Karena jikalau kita menunggu isya, alamat subuh tertinggal. Karena pukul lima pagi sudah masuk waktu dhuha. Allahu 'alam.

Target saya di ramadhan tahun ini, bisa mengkhatamkan Al-Qur’an dua kali, atau tiga kalau perlu, menghitung panjangnya siang. Lalu, saya ingin mengajarkan keempat adik asuh saya membaca Qur’an dengan baik dan benar. Meskipun mereka berkewarganegaraan Mesir dan lancar berbahasa Arab, namun untuk hukum-hukum tajwid sama sekali belum benar. Insya Allah cukup dua itu target saya untuk tahun ini.

Bismillah, saya mantapkan diri dan hati untuk terus beribadah kepada-Nya. Di bulan yang penuh berkah ini, mari berlomba-lomba dalam kebaikan. Yang sholatnya masih bolong-bolong, segera disempurnakan. Yang puasanya masih setengah hari, ayo digenapkan. Masa mau kalah sih sama muslimin disini, yang puasa hampir Sembilan belas jam? So, selamat berpuasa dan Herzlich willkommen, Ramadhan! :D

By Shohwah Bosnia Maulidiyah

(@bosniaaaaa)

No comments: