Shared memories

Monday, July 15, 2013

Kesalahan kecil

Kedua anak itu bermain pasir di halaman rumah. Terlihat sangat akrab. Sang kakak berusia empat tahun. Sedang si bungsu berusia dua tahun. Mereka mempunyai paras yang sama. Rambut pirang yang sedikit berombak, bola mata bulat berwarna abu-abu, bibir merah tipis, dan bulu mata yang lentik.
Ibu memantau dari jendela dapur, sambil sesekali tersenyum melihat tingkah laku kedua malaikat kecilnya. Sedang sang ayah sedang bekerja dan akan pulang sebelum matahari terbenam.

Hari ini hari yang sempurna untuk berjemur. Well, now is Summer! Namun tak mungkin bagi ibu berjemur dengan membawa dua malaikat kecilnya. Jadi ia lebih memilih untuk memasak masakan yang disukai anak-anaknya.


Musik mengalun lembut, membawa hati wanita separuh baya ini menikmati alam bawah sadarnya. Memori lima tahun lalu terlintas di otaknya. Wajah perempuan kecil yang terbujur kaku di samping kolam renang plastik. Ia tersentak, tak terbayang ingatan buruk itu masih menghantui hidupnya.

Lagi, ia mengintip dari balik tirai dapur, mengamati kelakuan kedua kakak beradik itu. Sang adik menyirami rambut kakaknya dengan pasir. Tak mau kalah, sang kakak melempar sedikit pasir ke muka si kecil. Butiran pasir masuk ke dalam mata si kecil. Tangispun pecah, si kecil segera berlari ke arah rumah. Wanita muda itu panik, segera berlari ke arah anak bungsunya.

Si kecil menangis semakin kencang, ia berusaha menaiki tangga kecil di depan pintu masuk, perlahan. Akibat penglihatan yang buruk, ia terjatuh. Bola matanya membentur tangga, tepat di sudutnya. Sang ibu panik melihat keadaan putri kecilnya. Amarahpun memuncak. Ia berjalan mendekati anak lelakinya. Terbata-bata mulut malaikat kecil itu berusaha mengucapkan sesuatu, "Entschuldigung mama. Ich habe nicht gemeint. Maafkan aku mama. Aku tidak bermaksud."

Sang ibu menatap anaknya murka. Seketika ia melihat bayangan pria itu di wajah sang anak. Ya, pria itu. Pria yang telah memerkosanya delapan tahun silam. Tanpa mendengar kata maaf dari mulut mungil itu, ia mengayunkan pisau yang ia pegang ke arah sang anak. JLEB. Pisau itu tertancap tepat di perut sang anak. Suara lihir terucap dari bibirnya, kata-kata terakhirnya. "Warum, mama? Liebst du mich nicht? Mach nix, mama. Trotzdem liebe ich dich immer noch. Kenapa, mama? Kamu tidak mencintaiku? Tak papa mama, aku tetap mencintaimu."

Amarah yang menyerangnya tadi seakan meluap mendengar pernyataan cinta yang tulus dari malaikat kecilnya. Pun bayangan pria itu tiba-tiba menghilang dari wajah sang anak. Yang ada hanyalah wajah polos dan senyum tulus yang terlihat olehnya. Air mata jatuh melewati pipinya yang tirus. Klakson mobil terdengar, sang ayah sudah pulang dari kantornya. Melihat hal yang terjadi di depan matanya, ia segera menghubungi rumah sakit untuk kedua anaknya. Sang ibu masih meratapi tindakannya barusan.

Bayangan perempuan kecil itu kembali berkelebat dalam benaknya. Kolam renang kecil. Pun wajah pria itu. Bola matanya membulat. Ternyata dirinyalah yang telah membunuh anak perempuan hasil perkosaan yang dilakukan pria bejat itu. Lututnya lemas, ia terjatuh lemas di hadapan mayat anak laki-lakinya. Bagaimana mungkin ia bersumpah atas nama agama di pengadilan atas kasus anak perempuan itu? Lalu senyum bengis pria bejat itu menghantui pikirannya.

No comments: