Shared memories

Thursday, May 30, 2013

Aku dan rumah tua

Oke, rumah ini tua, mungkin tujuh kali lipat dari usiaku sekarang. Aku memerhatikan sekeliling. Halaman luas dengan banyak pohon dan tanaman. Bukit membentang dihadapanku. Desa ini bernama Kipfenberg, pusat dari wilayah Bayern, jika kita lihat dari peta. Mataku berkeliling, lalu menangkap gudang yang terletak terpisah dari rumah. Kuberanikan diri mengintip isi gudang tua itu. Tersusun beberapa rak besar, rak khusus untuk kayu bakar. Disamping rak-rak tersebut terdapat tiga buah sepeda tua, seperti sepedaku yang kutinggalkan di Ingolstadt sana.


Aku melangkahkan kaki keluar dari gudang tua itu. Oke, enam derajat celcius sama sekali bukan cuaca bagus untuk akhir bulan Mei ini. Ditambah gerimis yang rintiknya ikut membasahi jilbabku. Sepuluh langkah dari gudang aku sudah berada di rumah tua itu. Well, tidak terlihat seperti rumah horror seperti rumah-rumah tua di Indonesia, namun cukup membuatku sedikit waswas. Daun pintunya pun masih model lama. Aku mengamati isi rumah, mulai dari dapur, ruang keluarga, kamar mandi, musholla, sampai kamar tidur di lantai dua.

Rumah tua ini benar-benar membuatku terpesona. Unik dan kokoh. Mungkin hanya dua kata itu yang bisa menggambarkannya. Di dapur kulihat ibu separuh baya itu sedang memasak untuk makan siang. Ibu itu, Ibu Ami, beliaulah yang telah mengajakku kabur sementara dari Ingolstadt, dari padatnya rutinitasku.

Di pojok kiri dapur dari pintu terdapat tungku kayu bakar. Lalu disampingnya ada kompor gas yang bersatu dengan oven. Disamping kompor ada kulkas. Tunggu, kulkas? Hei, bagaimana mungkin kedua elektronik yang berbeda suhu diletakkan berdampingan seperti itu? Ckckckck. Paling pojok ada wastafel dengan tiga buah kran yang unik; kran air panas, kran air dingin, dan kran untuk mengisi kotak air panas. Unik bukan? Jika kita ingin air panas, kita harus mengisi kotak air panas lalu memanaskannya. Setelah itu baru bisa kita nikmati air panas itu, tapi dari kran berbeda. Sedang jika kita ingin air dingin, hanya putar kran air dingin. Untuk ukuran rumah-akhir-pekan, metode itu sama sekali bukan hal buruk.

Pria tua itu sedang asik dengan kayu bakar dan tungkunya. Memilah-milah kayu yang akan dimasukkan kedalam tungku. Aku berjalan meninggalkan dapur, melangkah ke ruang keluarga. Terdapat dua buah sofa empuk didalamnya. Suara radio Antenna Bayern di pojok ruangan membuatku tidak takut akan foto-foto yang terpajang di dinding. Foto-foto usang, kalian tahu, melihatnya saja mungkin orang akan kabur. Foto-foto itu didominasi oleh satu wanita cantik dan satu pria kecil-yang kutebak dia adalah bapak tua itu.

Bu Ami menyuruhku untuk meletakkan ranselku di musholla. Aku beranjak ke ruangan paling pojok, antara ruang keluarga dan kamar mandi. Disana terdapat sajadah dan mukena, tasbih, bahkan Al-Qur’an. Dua  buah sofa yang berhadapan seakan memanggilku untuk ditiduri. Setelah tidur hanya empat jam kemarin, rasanya mataku ingin selalu terpejam. Namun aku kesini bukan untuk tidur. Kalau hanya tidur, di Ingolstadt juga bisa, bukan?

Kuletakkan ranselku di salah satu sofa dan membuka jendela kecil yang terdapat di ruangan itu. Angin kencang menerpa wajahku. Dingin. Kembali kututup jendela itu. Mataku berlari kesegala arah, menelanjangi isi seluruh ruangan ini. Terpajang sebuah kain hitam yang bertuliskan ayat kursi. Di sudut ruangan, tidak jauh dari pintu terdapat sebuah lemari kayu tua. Mungkin lemari ini sama usianya dengan rumah ini. Tepat antara pintu dan lemari terdapat sebuah Heizung (pemanas ruangan) yang amat sangat menarik perhatianku. Aku berdecak kagum. Heizung ini berbeda tiga ratus enam puluh derajat dengan Heizung-heizung model sekarang yang tersebar di seluruh dunia. Dirumahku saja, emm maksudnya rumah orang tua asuhku, Heizungnya berbentuk kotak putih panjang tipis, dengan banyak lubang di atas dan dibawah kotak. Biasanya Heizung ini menempel di diding. Namun di rumah orang-orang elit, Heizung itu sendiri bisa dimasukkan ke dalam dinding, atau dibawah lantai. Heizung yang terletak di depan tempat tubuhku berdiri ini, mempunyai kabel yang harus disambungkan ke stop kontak. Lalu unOke, rumah ini tua, mungkin tujuh kali lipat dari usiaku sekarang. Aku memerhatikan sekeliling. Halaman luas dengairing. Mengingat rumah ini hanya ditinggali tiap akhir pekan, dan hanya dua orang, tentu akan mubadzir jika mempunyai mesin cuci piring yang menguras lebih banyak listrik dan air itu.h sampai lima puluh derajat). Lalu tombol terakhir adalah tombol bergaris tiga (sampai delapan puluh derajat). Aku rasa jika aku tinggal di desa ini, sepanjang waktu kuhabiskan dengan menempel pada Heizung ini, hahahha.

Aku merebahkan tubuh diatas sofa di musholla itu. Hanya beberapa saat aku merasakan kenyamanan itu, tiba-tiba Bu Ami memanggilku untuk makan siang. Mataku kembali segar mendengar kata makan. Jujur, sebelum aku berangkat ke rumahnya, yang berjarak dua kilometer dari tempat tinggalku, aku belum sempat menyentuh makanan. Aku punya janji dengan ibu paruh baya ini pukul delapan lewat tiga puluh menit. Artinya aku harus sudah kabur dari rumah sebelum jam delapan. Kalian tahu, adik-adik asuhku selalu ribut setiap bangun pagi dan aku tidak menginginkan hal itu dihari liburku.

Aku mengambil langkah seribu menuju dapur. Tercium aroma ayam goreng yang bisa menggoyang lidahku. Lalu di meja makan berjejer beberapa jenis makanan lainnya; kentang rebus, mie goreng dicampur daging, bakso, sambal terasi sebagai pelengkap, tak lupa salad sebagai makanan penutup. Oke, hari ini sepertinya aku akan menikmati makan besar. Aku mengambil posisi nyaman, dekat dengan tungku kayu bakar, mengingat suhu di ruangan ini belum bisa dikatakan suhu normal untuk sebuah ruangan. Aku menarik kursi, ingin mendudukinya. Lalu bapak tua itu berbicara denganku, „du kannst auch hier setzen. Schau mal, das ist kinder Stuhl. Warm und groß, oder? Hier gibt auch  licht.“ Bapak tua itu menyalakan lampu tempel yang tepat berada di atas bangku kinder tersebut. Na ja, sekarang bapak ini meperlakukanku seperti anak kecil. Sial. Aku menggumam dalam hati. Namun, untuk menghormati beliau, aku mendorong kembali bangku yang aku tarik ke tempat semula, lalu berjalan menuju bangku kinder yang berada di seberang tempatku berdiri sekarang. Yah, bangku ini tidak terlalu buruk untukku. Aku menduduki diriku diatas bangku kinder tersebut. Mengambil satu potong paha ayam, dua sendok sayur bakso, tiga garpu mie goreng, dan dua sendok teh sambal terasi. Tangan kanan memegang sendok dan tangan kiri memegang garpu, lalu kucapkan pelan, “guten appetit!” tak lupa mengucapkan bismillah, lalu dalam sekejap, kusantap makanan di piringku.

Seperti tradisi orang-orang barat ini, sehabis makan pasti ada makanan pencuci mulut. Aku mengambil beberapa sendok salad. Ku nikmati salad tersebut perlahan. Selesai makan, Bu Ami membuat teh hangat untuk kami semua. Jelek, cuaca hari ini benar-benar jelek, membuat semua orang menjadi malas. Bagaimana tidak? Dingin, hujan, dan angin kencang. Aku menyeruput secangkir teh hangat (atau panas?) di tanganku. Hangatnya menyebar ke seluruh tubuhku. Sambil menyeruput teh, bapak tua itu berbicara denganku dengan bahasa Jerman. Bukan berarti beliau tidak bisa bahasa Indonesia, sama sekali bukan. Tapi bapak tua ini tahu, jika aku berbicara dengannya menggunakan bahasa Indonesia, bagaimana bisa aku memperlancar bahasa Jermanku? Aku pun demikian, sebisa mungkin tidak menggunakan bahasa Idonesia ketika berbicara dengan si bapak.

Toh mencuci piring dengan tangan bukanlah hal buruk.
Aku mengisi kotak air panas itu dan memanaskannya. Menggulung lengan bajuku hingga siku, lalu mengambil spons dan menuangkan sabun cuci piring keatasnya. Tombol merah yang menyala ketika memanaskan air sekarang sudah mati, pertanda air sudah cukup panas. Aku membuka kran berwarna merah dan memulai mencuci piring. Sekitar lima belas menit, aku sudah selesai dengan piring dan gelas kotor itu.

Bu Ami membutuhkan bantuanku untuk memasang karpet tempel di lantai dua. Kami bersama-sama menaiki tangga. Tangga yang terbuat dari kayu itu menimbulkan bunyi decitan ketika kami menaikinya. Wajar, kayu tua yang bertahan sampai saat ini. Selesai memasang karpet tempel bermotif kayu itu, Bu Ami menunjukkan beberapa kamar tidur, dan aku boleh memilih dimana aku akan tidur nanti malam.

Aku mengintip kamar terbesar di lantai dua. Terdapat sebuah kasur besar, maksudku untuk dua orang, lalu terdapat sebuah lemari kayu besar. Aku rasa lemari kayu itu bukan model lama. Dan aku tebak, kamar ini adalah kamar tempat pasangan Indonesia-Jerman ini tidur. Di seberang kamar besar itu terdapat kamar lumayan besar dengan ukuran tempat tidur yang sama. Lalu, masih di kamar itu, ada kamar kecil berukuran tiga meter kali satu koma lima meter. Bisa bayangkan? Dalam kamar ada kamar lagi. Kira-kira begitu. Kamar kecil itu lumayan nyaman, apalagi ada wastafel didalamnya. Aku sempat berpikir, mungkin aku bisa tidur di kamar kecil ini, supaya nanti subuh aku tidak perlu turun ke kamar mandi lantai satu untuk mengambil wudhu. 

Namun pikiranku terpatahkan oleh kenyataan bahwa wastafel itu tidak bisa digunakan karena saluran airnya rusak selama musim dingin oleh salju yang kadang merembes kedalam tanah.
Kami melangkah ke kamar selanjutnya, tepat disamping tangga. Kamar itu lumayan besar untuk satu orang. Posisi kamar ini tepat di atap rumah bagian kiri. Begini, inilah yang membuatku lebih tertarik untuk melanjutkan kuliah disini, ketimbang pulang ke Indonesia. Rumah-rumah ini, berbeda dengan rumah-rumah di Indonesia. Pertama, hampir setiap rumah di Jerman mempunyai keller (ruang bawah tanah). Fungsinya bukan sebagai tempat parkir mobil seperti di Indonesia, tetapi untuk ruang mencuci baju dan menjemur baju. Karena jika musim dingin tiba, akan sangat sulit mendapatkan cahaya matahari. Mau tidak mau, suka tidak suka, mereka harus menjemur pakaian tanpa cahaya matahari. Kedua, setelah aku perhatikan, setiap lantai di dalam rumah tingginya kurang lebih dua meter. Maksudku, jarak dari lantai ke langit-langit. Kalau dibandingkan dengan rumah-rumah di Indonesia yang jarak antara lantai dengan langit-langit sekitar dua koma tiga meter sampai dua koma lima meter, rumah-rumah disini bisa hemat bahan bangunan. Aku sempat memerhatikannya ketika aku bekerja di salah satu perusahaan kontraktor di Jakarta Selatan. Ketiga, atap rumah-rumah disini biasanya dimanfaatkan untuk lantai tambahan. Aku belum mengerti bagaimana struktur atap dari rumah-rumah ini. Karena yang kupelajari di Indonesia, rangka atap dari kayu atau baja itu sangat jarang bahkan tidak pernah dipakai untuk kamar, atau lantai tambahan.

Aku mengintip cuaca diluar dari jendela kecil yang ada di kamar itu. Masih hujan. Aku mendesah. Apa yang bisa aku lakukan ditengah cuaca buruk begini? Melihat-lihat isi desa inipun tidak. Aku melangkah keluar dari kamar ini. Sudah kutetapkan, aku akan tidur di kamar ini nanti malam. Lalu aku melihat satu pintu lagi diantara dua kamar besar itu. Pintu apa itu? Aku membuka daun pintu itu dan kudapatkan sebuah kamar panjang dengan rak buku yang berjejer rapi dari ujung kanan sampai ujung kiri kamar. Aku berdecak kagum. Banyak sekali koleksi bukunya. Lalu bapak tua itu datang. Beliau mengambil salah satu foto yang terpajang di dinding.
„ini foto saya waktu saya kecil. Sekitar tahun 1950-an. Lihat, pak pos mengantar paket masih menggunakan kuda. Unik, kan? Yang ini ibu saya.“ Beliau mengoceh tentang semua yang tergambar dalam foto itu. Emm, mungkin lebih tepatnya disebut lukisan dari pada foto. Tepat diatas kusen pintu, terdapat patung muka yang sedang melirik ke arah kanan. Aku kaget bukan main, karena aku penakut dengan rumah yang baru pertama kali aku datangi. Kalian tahu, patung itu seakan terus menatapku. Untung ukurannya kecil, jadi aku tidak terlalu takut.

Kami melangkah kebawah. Hujan mulai reda. Bapak tua itu mengajak kami untuk menikmati secangkir kopi hangat sebelum melihat-lihat isi Kipfenberg. Aku menuruti saja apa yang dilakukan pasangan ini. Menempati kursi kinder dan menunggu kopi datang. Kutuang susu cair kedalam cangkir, kemudian bapak tua itu menuang kopi hitam panas ke cangkiru. Kopi hitam ini tanpa gula. Jujur saja, rasanya tidak enak. Namun mengingat aku sudah memakan dua batang coklat hari ini, kuurungkan niat untuk menambahkan gula kedalam kopi. Kalian tahu, ibu asuhkulah yang telah mengajariku untuk tidak terlalu banyak menambahkan gula kedalam makanan atau minuman yang kita santap, karena sejatinya, setiap makanan (nasi, buah-buahan, bahkan sayur-sayuran) sudah mengandung gula di dalamnya. Jadi alangkah baiknya jika kita mengurangi resiko diabetes dimasa mendatang dengan cara diatas. Cukup mudah, bukan?

Bapak tua itu bernama Ludwig. Orang jerman asli. Maksudku, ayah, ibu, bahkan kakek dan neneknya berdarah Jerman, tak ada darah campuran dalam silsilah keluarganya. Entah karena aku memang bertubuh mungil, atau karena beliau tidak punya anak hasil pernikahannya dengan Bu Ami, beliau menganggapku benar-benar seperti anaknya sendiri. Beliau menasihatiku segala macam.

„kamu kan disini numpang tinggal, jadi sebisa mungkin hormati orang. Kalau kamu sopan dan baik kepada orang lain, insya Allah orang lain pun begitu terhadap kamu. Siapa tahu nanti kamu kecantol orang sini dan tinggal disini.“ kira-kira begitu yang beliau ucapkan. Aku tersenyum simpul. Menikah dengan orang bule? Bukan tidak mungkin, namun aku tidak ingin. Kutegaskan sekali lagi, aku tidak ingin. Jika memang aku ingin, aku bisa saja bersikap sedikit centil terhadap pria disini. Rupaku juga tidak jelek-jelek amat. Kulitku memang sawo matang, tapi dengar-dengar, orang bule justru lebih tertarik dengan wanita berkulit sawo matang, khususnya Indonesia. Oke, lupakan percakapan itu. Untuk saat ini aku tidak ingin kecantol dengan pria bule.

Selesai menyeruput kopi hitam hambar itu, aku menyambar jaket tebal yang tergantung di dekat pintu masuk, lalu memakai sepatu yang tersusun di rak sepatu. Aku dan Bu Ami berjalan santai, menikmati dinginnya desa ini. Pemandangannya benar-benar indah. Aku dibuat kagum berkali-kali, lalu tasbihpun terucap. Kulihat kali kecil bersih, airnya tak berwarna dan tak ada sampah satupun yang mengambang atau menepi di kali tersebut. Sungguh pemandangan luar biasa, mengingat sudah jarang pemandangan seperti ini di kampung halamanku.
Sekitar berjalan lima ratus meter, Pak Ludwig menyusul kami menggunakan mobil. Maklum, beliau sudah berumur dan tidak mampu berjalan jauh. Setelah berunding, kami memutuskan untuk melihat-lihat kastil yang terletak lima kilometer dari sini, menggunakan mobil, tentunya.

***
Pukul enam sore. Kami beranjak pulang ke rumah tua milik pasangan itu. Mataku sayup-sayup, benar-benar butuh tidur. Namun perut juga minta diisi. Sampai rumah, aku dan Bu Ami menghangatkan makanan tadi siang. Seperti biasa, bapak tua itu mendengar radio sambil membaca koran. Suhu di dapur sudah stabil, sekitar dua puluh empat derajat. Namun suhu di ruang keluarga masih labil, dua belas derajat. Bapak tua itu tidak tahan dengan suhu dingin di ruang keluarga, lalu dia membawa radio tuanya ke dapur dan mencolok kabel radio di salah satu stop kontak yang berada di dapur.

Malam ini adalah pertandingan Bayern München melawan Dortmund. Sebagai Bayerisch, bapak tua ini tak ingin ketinggalan berita tentang klub sepak bola kebanggaannya. Na gut, batinku. Aku juga ingin mengetahui pertandingan yang dilangsungkan di London itu. Sebenernya temanku

Ting Ting!
Suara bel rumah ini berbunyi. Ada tamu malam-malam begini? Aku mengernyitkan dahi dan melirik jam di dinding. Pukul sembilan belas lewat dua puluh menit. Siapa yang bertamu malam-malam dan cuaca buruk begini? Bapak tua itu melangkah meninggalkan dapur dan membukakan pintu untuk sang tamu.
„schau mal, der kleiner Andi ist da.“ Kata bapak tua kepada kami semua. Dari bangku tempatku duduk, aku mengintip sosok „kecil“ yang dibilang bapak tua itu. Seorang lelaki muda berusia tiga belas tahun berdiri dibalik punggung Pak Ludwig. Na, anak sebesar ini dianggap kecil? Batinku.

Pak Ludwig memersilakan Andi untuk duduk di sampingku. Bah, mengapa harus disampingku? Aku melirik wajahnya sekilas, lalu kembali asik dengan radio dan teh hangatku. Mereka berbicara macam-macam hal. Aku hanya jadi pendengar, berharap bahasa Jermanku bertambah lancar dengan metode mendengar ini. Sepuluh menit kemudian bel kembali berbunyi. Siapa lagi yang datang?

Kami semua keluar dari dapur dan medapatkan dua wanita cantik sedang berdiri di depan pintu. Wanita muda itu tak lain adalah anak dari wanita cantik lainnya. Hei, mengapa muka pria ini mirip dengan wanita muda itu? Pertanyaanku terjawab ketika pria itu memanggil sang wanita dengan sebutan mama. Oke, sebuah keluarga kecil, pikirku.

Aku risih. Pria muda itu masih duduk disampingku, sedang wanita muda dan ibunya duduk di kursi depanku. Disamping kananku duduk Pak Ludwig dan di tengah-tengah antara Pak Ludwig dan wanita paruh baya duduk Bu Ami. Ternyata mereka tetangga sebelah, yang tadi siang diberi tanaman oleh Bu Ami. Mereka kesini untuk mengucapkan terima kasih atas tanaman tersebut. 

Pria dan wanita muda ini bergantian menatapku. Bah, macam model saja. Kadang pria muda ini sibuk dengan iPhone-nya, lalu nimbrung , aku mengintip sosok „kecil“ yang dibilang bapak tua itu. Seorang lelaki muda berusia tiga belas tahun berdaku mungkin enam atau tujuh tahun lebih tua darimu, sadarlah nak.

Pukul dua puluh satu tepat, mereka pamit pulang. Mataku sudah tak sanggup untuk terbuka. Aku izin tidur lebih dahulu. Jujur, aku takut tidur sendirian di rumah yang pertama kali aku datangi, ditambah rumah ini tua dan hanya ditempati setiap akhir pekan! Bahkan Bu Ami bercerita, saat winter rumah ini sama sekali tidak ditempati. Ditutup. Artinya dari bulan November sampai bulan April rumah ini tidak ditempati, hiiiy.

Aku mengambil Nokia jadulku, mencari playlist yang kusetel setiap ingin tidur. Lalu melantunlah ayat-ayat suci dari Saad Al-Ghamidi yang akan menemani tidurku. Sempat kubuka dunia maya, dan mendapatkan berita bahwa Bayern München menang 2-1 atas Dortmund. Na, sudah kutebak. Aku menarik selimut tebal dan membaca doa.

No comments: