Selasa, 26 Februari 2013
Aku duduk di bangku kedua dari kanan di barisan pertama depan papan tulis. Dia berada tepat di belakangku. Frau Bauer memulai pelajaran, dimana tema dalam buku kami adalah "Perkenalan".
Aku memperkenalkan diriku sebagai orang Indonesia. Hanya aku warga negara Indonesia. Tujuh belas peserta kursus lainnya berasal dari India, Italia, Spanyol, Brazil, China, dan Rumania.
Ketika dia menyebut namanya, mataku sedikit membesar dan menoleh kearahnya. Camil itu nama Islam, bukan? Mungkinkah dia Muslim? Entah. Kusimpan pertanyaan itu dalam hati. Akhirnya pertanyaanku terjawab ketika dia menyebutkan bahwa dia berkewarganegaraan Rumania. Ya, tidak mungkin dia seorang Muslim.
Lalu guru membagi kami dalam beberapa pasang. Kami harus mempraktikkan materi pelajaran kami. Tanpa kuduga, Frau Bauer memasangkanku dengan dia. Aku bersikap biasa saja walau harus berpasangan dengan pria terganteng di kelas.
Temanya adalah perkenalan. Lalu mulailah percakapan kami dalam bahasa Jerman.
"So, wie heißt du? | siapa namamu?" Dia memulai percakapan antara kami.
"Aria, und du? | Aria, kamu?" Aku menjawab singkat.
"Camil. Und woher kommst du? | Camil. Kamu berasal dari mana?" Dia mengajukan beberapa pertanyaan untuk mengenalku.
"Ich komme aus Indonesien, und du? | aku dari Indonesia. Kamu?"
"Hmm Ich komme aus Rumänien. Wie lange hast du schon in Deutschland? | aku dari Rumania. Sudah berapa lama kamu di Jerman?"
Terlihat seperti dia yang sangat ingin tahu tentangku. Aku sama sekali belum mengajukan pertanyaan padanya.
"Ich habe schon 3 Monaten hier. So, was bist du von Beruf? | aku sudah 3 bulan disini. So, apa pekerjaanmu?" Akhirnya aku melontarkan pertanyaan padanya.
"Ich bin Computers Programmierer. Und du? | aku kerja sebagai komputer programmer. Kamu?"
"Hmm Ich bin nicht sicher, ein aupair-Mädchen | aku gak yakin, aku aupair."
"Was ist denn aupair-Mädchen? | apa itu aupair?"
Oh God baru kali ini aku bertemu dengan orang yang tak tahu tentang aupair. Aku bingung menjelaskan padanya. Ketika mulutku hendak angkat bicara, Frau Bauer menghampiri meja kami dan ikut memperhatikan isi percakapan kami. Lalu dia bertanya pada guru.
"Frau Bauer Entschuldigung, was ist aupair-Mädchen? | maaf Bu Bauer, apa itu aupair?"
"Wer ist denn aupair-Mädchen? Du, Aria? | memang siapa yang aupair? Kamu, Aria?"
Aku mengangguk
"Aha! Du bist Glück. Wir haben ein Geschichte über aupair | wah kamu beruntung. Kita ada cerita nih tentang aupair." Frau Bauer membuka halaman kelima dari buku kursusku.
"Aber was ist aupair? | tapi apa itu aupair?" Dia sepertinya masih penasaran dengan pekerjaanku.
"Aria, bitte schön | Aria, silakan." Frau Bauer mempersilakanku untuk menjawab pertanyaan dari pria itu.
"Ehmm. Aupair-Mädchen ist eine Mädchen kommt aus die anderem Land und wohnt in Deutschland bei eine Familie. Natürlich es gibt auch aupair-jungen. Normalerweise sie helfen die Familie und bekommt ein bisschen Taschengeld pro Monat | hmm.. aupair itu seorang perempuan yang datang dari negara lain dan tinggal di jerman bersama sebuah keluarga. Pastinya juga ada aupair laki-laki. Biasanya mereka membantu keluarga itu dan mendapat sedikit uang saku." Dia mengangguk, tanda mengerti.
"Tapi saya tegaskan, aupair itu bukan suatu kerjaan, Aria." Frau Bauer menjelaskan padaku. Aku mengangguk. Ya memang bukan. Tugas aupair yang utama kan belajar bahasa dan budaya dari negara tujuan.
Kami melanjutkan percakapan antara kami sampai waktu menunjukkan pukul 18:00. Frau Bauer memberi kami 5 menit untuk istirahat. Aku mengambil handphone dan melihat tidak ada notification.
Lalu, kulihat dia meraba tasnya dan mengeluarkan dua bungkus biskuit. Sejurus kemudian, dia menyerahkan satu bungkus biskuit itu padaku.
"Thanks." Kataku sambil mengambil biskuit itu dari tangannya. Kubuka bungkus biskuit itu dan ku makan perlahan. Wah, biskuit ini enak. Harus ku beli nanti hari sabtu, batinku. Di kelas kami lebih banyak anak-anak muda ketimbang orang tua. Maksudku, ya sekitar umur dua puluh sampai tiga puluh tahunan.
Aku menengok ke belakang. Tepat dibelakangku berjejer empat wanita muda. Aku berkenalan dengan mereka. Peipei dari China bekerja sebagai IT, Kriti dari India bekerja sebagai System Management, Eugenia dari Spanyol bekerja sebagai Teknik Komputer, dan Anisha dari India mahasiswa Teknik Mesin.
Pulang kursus, aku berjalan menuju halte bus. Dari belakang ada seseorang yang memanggil namaku. Ah, Kriti rupanya. Ternyata tempat dia tinggal dekat dengan tempat kursus kami. Aku berjalan bersamanya sambil berbicara banyak hal, dalam bahasa Inggris pastinya. Sampai di halte bus kami pun berpisah. Busku tiba dalam 10 menit.
Kamis, 28 Februari 2013
Aku menaruh tasku diatas meja. Membuka buku kursus dan memeriksa pekerjaan rumah. Sip, semua sudah kukerjakan. Aku membaca buku kursus sesekali melihat handphone. 16:56. Empat menit lagi pelajaran akan dimulai, namun baru aku dan Kriti yang datang.
Aku ingin berbicara dengan Kriti, namun ia sedang asik berbicara dengan seseorang di telepon. Ini semua gara-gara bahasa Inggrisku yang hancur total sejak datang kesini. Pernah suatu hari datang keponakan orang tua asuhku dari Amerika. Saat makan malam, dia berbicara padaku dalam bahasa Inggris. Aku sangat mengerti apa yang dia bicarakan, tapi entah mengapa aku membalas pertanyaannya dengan bahasa Jerman.
Alhamdulillah, semua teman sekelas lancar berbahasa Inggris, termasuk Frau Bauer. Jadi aku bisa sedikit memperbaiki bahasa Inggrisku dengan cara banyak berinteraksi dengan mereka. Dua menit kemudian dia datang.
"Hallo." Sapanya. Aku menoleh sekilas kearahnya dan membalas sapaannya juga dengan hallo, lalu kembali sibuk dengan buku pelajaran di mejaku.
Frau Bauer datang, lalu beberapa murid lainnya mengikuti di belakangnya. Memang sekarang belum pukul lima tepat, tapi kelas sudah terpenuhi dengan murid-murid yang ingin mempelajari bahasa Jerman sebagai bahasa asing.
Pertemuan kali ini Frau Bauer memasangkanku tidak dengan dia, tapi dengan Eugenia. Dia berpasangan dengan Kriti. Good. Mereka pasti ngobrol banyak hal, sama-sama lancar Inggrisnya sih, aku membatin. Sekilas terlihat aku cemburu dengan kedekatan mereka. Tapi, hei! Aku sama sekali tidak cemburu. Buat apa pula aku cemburu. Dia juga bukan apa-apa untukku. Hanya teman. Ya, teman.
Ketika kami sedang asik dalam percakapan, tiba-tiba Frau Bauer bertanya pada Kriti,
"Kriti, warum setzt dich neben Camil? | Kriti, kenapa kamu duduk disamping Camil?"
Memang tema kali ini mengenail jawaban dari sebuah pertanyaan dimulai dengan kata "weil (karena)" dan mengenai posisi.
Kriti terlihat bingung. Namun akhirnya ia menjawab pertanyaan dari Frau Bauer.
"Weil es keine Platz gibt | soalnya tidak ada tempat lain."
Frau Bauer terlihat tidak terlalu senang dengan jawaban Kriti.
"Ja, warum nicht? Aber Kriti, du kannst auch antwortet mit Fantasie. Zum Beispiel, weil Camil Schöne Augen hat | yaa, kenapa tidak? Tapi Kriti, kamu juga bisa jawab dengan fantasi. Contohnya, karena Camil punya mata yang indah."
Semua tertawa, termasuk aku. Frau Bauer ini jiwanya memang sangat muda, menurutku. Atau karena memang watak orang-orang barat seperti itu? Entah.
Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 18:00, dan seperti sebelumnya, Frau Bauer memberi kami waktu lim menit untuk istirahat.
Aku mengambil biskuit dari tasku, lalu kutawarkan pada teman sekelas. Dia, yang sedang asik berbicara dengan Kriti awalnya menolak, namun sejurus kemudian dia menghampiri mejaku dan mengambil beberapa biskuit.
"Thanks." Ucapnya sembari kembali ke tempat duduknya.
"No problem." Aku membalas singkat.
Pukul 19:30, waktunya pulang. Aku bergegas menuju halte bus. Namun Krita tampak ingin lebih mengenalku lebih dekat. Kami berjalan bersama, lagi. Kami bahkan sempat menukar nomer hand phone masing-masing.
No comments:
Post a Comment