Shared memories

Monday, December 3, 2012

Kutitipkan Rindu pada Lantunan Qur'an...


Pagi ini, aku membuka mata.. Gelap, sunyi, dingin.. kulihat jam ditanganku.. 05:40, waktunya shubuh.. ku ambil kacamata dan jaket wol pemberian ibu asuhku..

Alhamdulillahilladzi ahyana ba'da ma amatana wa ilaihin nusyuur..

"Segala puji bagi Allah yang menghidupkan aku kembali setelah mematikan aku dan kepada Allah akan bangkit"

kulangkahkan kaki menuju toilet disudut ruangan.. kubuka pintu toilet dan tak lupa berdo'a :
Allahumma inni a'udzubika minal khubutsi wal khabaaitsi..

"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari syetan laki-laki dan syetan perempuan"
ku ambil sikat gigi dan pasta, lalu ku gosok gigiku perlahan.. ku ambil sabun muka, lalu kubasuh wajahku dengan air.. dingin, ya dingin.. kuputar kran menuju titik merah.. panas, ya panas.. kukembalikan kran menuju asal, titik biru.. Ah, mengapa pilihannya hanya 2 : panas atau dingin? mengapa tidak ada pilihan "biasa saja"? tidak panas dan juga tidak dingin..

ku oleskan sabun itu ke wajahku, lalu kubasuh hingga bersih.. ya, tak ada pilihan "biasa saja" seperti di kampung halamanku.. karena sekarang aku di negeri orang, negeri yang sangat maju teknologinya.. selesai membasuh muka, aku berkumur.. dan, selesai sudah ritual pagi ini.. aku mengambil wudhu, menahan tangis..

Nawaitul wudhu'a liraf'il hadatsi asghaarin fardhu lillahi ta'ala..

"Aku niat berwudhu untuk menghilangkan hadast kecil,fardhu karena Allah Ta'ala"

kulangkahkan kaki menuju kamar.. kugelar sajadah merah.. ku ambil mukena coklat, lalu kupakai.. lagi-lagi teringat akan kampung halamanku.. Mukena.. ya, disini tidak ada mukena.. bahkan, ibu asuhkupun shalat hanya mengenakan gamis dan jilbab.. telapak kakinya tidak tertutupi.. entah, apa memang bagi mereka pergelangan kaki itu bukan aurat, atau.. yah, semacam itulah.. Allahu a'lam..

pagi ini, aku shalat shubuh 2 raka'at.. seperti biasa, takbiratul ihram, ruku', sujud.. dan aku sangat suka sujud.. karena dalam sujud, aku bisa membayangkan wajah mereka, orang-orang yang sangat aku cintai..

Assalamu'alaikum wa rahmatullahi ta'ala wa barakaatuhu..

aku mengakhiri shalat subuhku.. dan, seperti biasa, aku berdzikir.. Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar, Laa ilaaha illallah.. ku angkat kedua tanganku untu memohon kepadanya..

"Yaa Rabb, terima kasih atas apa yang telah Engkau berikan kepadaku, dan juga kepada seluruh keluargaku.. Ampuni dosa-dosa kami yaa Rabb.. Allah, berikan kesehatan selalu untuk mereka di negeri sana.. Lancarkan urusan mereka.. Beri mereka rizqi-Mu yang halal.. sesungguhnya aku sangat mencintai mereka.. maka kutitipkan mereka pada-Mu.. sesungguhnya Engkau sebaik-baik pelindung.."

Ah, aku jadi teringat surat dari ibuku sebelum aku menaiki pesawat.. Dan, air matakupun tumpah, tak kuasa menahan rindu.. ummi, abah, nini, naufal, faqihah, faris, syaif, nu'aim, nusaibah, nurul.. Allah, apa kabar mereka? seketika terbayang wajah mereka, lagi..

 Ummi yang sedang tersenyum padaku, mencium pipiku lembut..
"teteh, hati-hati yaa disana.. jaga imanmu, aqidahmu, shalatmu, dan pakaianmu.. ummi dan abah tak bisa menjagamu, namun ummi yakin, Allah akan terus menjagamu.." lalu air mataku menetes sedikit demi sedikit..

lalu muncul abah dengan kedua tangannya yang membentang.. aku berjalan menuju abah dan memeluknya, lalu abah mencium keningku lembut..
"kalo abah bisa anter kamu sampe naik pesawat, abah jabanin deh.. tapi sayangnya gak bisa.. sukses yaa teh disana.. jangan lupa, selesai S3 sebelum umur 30th, masih inget kan? heheh.. inget Allah, Allah selalu mengawasi kamu.."

dan sekarang giliran nini, ibu dari ummi.. nini, dengan senyumnya yang lembut menggenggam tanganku erat..
"teteh, kamu harus menghargai orang, maka orang akan menghargaimu.. oke? semoga keluarga asuhnya baik yaa.."

Naufal, dengan lesung pipinya yang aku buat ketika kami berusia 3 dan 2 tahun.. menangis sambil memelukku erat ketika aku bercerita tentang cita-citaku..

 dan, Faqihah.. adik perempuan yang sangat aku sayangi.. dengan matanya yang lebih kecil dari mataku, menangis ketika bercerita tentang kehidupan SMAnya..

lalu Faris, Syaif, Nu'aim.. para mujahid kebanggaan ummi dan abah.. Faris dengan 8 Juz, Syaif dengan 16 Juz, dan Nu'aim dengan kepatuhannya kepada ummi dan abah.. mencium tanganku dengan linangan air mata ketika Idul Fitri..

juga Nusaibah dan Nurul, dengan kepala botaknya yang selalu tertawa.. dengan pikiran konyol tapi lucu yang membuat aku tertawa..

Dan, dia... dia, yang ummi anggap sebagai "calon"ku.. yang mendukungku.. yang menangis ketika aku menangis..

Ah.. Aku RINDU.. 
air mata ini semakin deras.. dan deras.. lalu ku ambil mushaf.. Qur'an pemberian ummi tercinta.. kubaca perlahan satu persatu huruf hijaiyah itu.. kubaca ayat per ayat.. selembar, dua lembar, diiringi air mata rindu dan penyesalan.. lalu... terbaca ayat itu..

Kullu nafsi dzaaiqatul mauut..

"Setiap yang hidup pasti akan mati..."

Tidak, yaa Allah.. jangan Kau ambil nyawa mereka ketika aku tak berada disisi mereka.. panjangkan umur mereka, yaa Rabb.. kalimat itu, memang terdengar sangat egois.. tetapi, apa aku tidak boleh memohon seperti itu, yaa Allah?  dan Engkau Maha Mengetahui isi hati manusia..
maka, lewat lantunan Qur'an ini.. kutitipkan rinduku pada mereka.. mereka yang aku cintai.. mereka yang berada di Indonesia..

Ingolstadt, 02 Desember 2012 12:38

No comments: