Pagi
ini, aku membuka mata.. Gelap, sunyi, dingin.. kulihat jam ditanganku.. 05:40,
waktunya shubuh.. ku ambil kacamata dan jaket wol pemberian ibu asuhku..
Alhamdulillahilladzi
ahyana ba'da ma amatana wa ilaihin nusyuur..
"Segala
puji bagi Allah yang menghidupkan aku kembali setelah mematikan aku dan kepada
Allah akan bangkit"
kulangkahkan
kaki menuju toilet disudut ruangan.. kubuka pintu toilet dan tak lupa
berdo'a :
Allahumma inni a'udzubika minal khubutsi wal khabaaitsi..
"Ya
Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari syetan laki-laki dan syetan
perempuan"
ku
ambil sikat gigi dan pasta, lalu ku gosok gigiku perlahan.. ku
ambil sabun muka, lalu kubasuh wajahku dengan air.. dingin, ya dingin.. kuputar kran menuju titik merah.. panas,
ya panas.. kukembalikan kran menuju asal, titik biru.. Ah, mengapa pilihannya
hanya 2 : panas atau dingin? mengapa tidak ada pilihan "biasa saja"?
tidak panas dan juga tidak dingin..
ku
oleskan sabun itu ke wajahku, lalu kubasuh hingga bersih.. ya, tak ada pilihan
"biasa saja" seperti di kampung halamanku.. karena sekarang aku di
negeri orang, negeri yang sangat maju teknologinya.. selesai membasuh muka, aku
berkumur.. dan, selesai sudah ritual pagi ini.. aku mengambil wudhu, menahan
tangis..
Nawaitul
wudhu'a liraf'il hadatsi asghaarin fardhu lillahi ta'ala..
"Aku
niat berwudhu untuk menghilangkan hadast kecil,fardhu karena Allah Ta'ala"
kulangkahkan
kaki menuju kamar.. kugelar sajadah merah.. ku ambil mukena
coklat, lalu kupakai.. lagi-lagi teringat akan kampung halamanku.. Mukena.. ya,
disini tidak ada mukena.. bahkan, ibu asuhkupun shalat hanya mengenakan gamis
dan jilbab.. telapak kakinya tidak tertutupi.. entah, apa memang bagi mereka
pergelangan kaki itu bukan aurat, atau.. yah, semacam itulah.. Allahu a'lam..
pagi ini, aku shalat shubuh 2 raka'at.. seperti biasa,
takbiratul ihram, ruku', sujud.. dan aku sangat suka sujud.. karena dalam
sujud, aku bisa membayangkan wajah mereka, orang-orang yang sangat aku cintai..
Assalamu'alaikum wa rahmatullahi ta'ala wa
barakaatuhu..
aku
mengakhiri shalat subuhku.. dan, seperti biasa, aku berdzikir.. Subhanallah,
Alhamdulillah, Allahu Akbar, Laa ilaaha illallah.. ku angkat kedua tanganku
untu memohon kepadanya..
"Yaa
Rabb, terima kasih atas apa yang telah Engkau berikan kepadaku, dan juga kepada
seluruh keluargaku.. Ampuni dosa-dosa kami yaa Rabb.. Allah, berikan kesehatan
selalu untuk mereka di negeri sana.. Lancarkan urusan mereka.. Beri mereka
rizqi-Mu yang halal.. sesungguhnya aku sangat mencintai mereka.. maka
kutitipkan mereka pada-Mu.. sesungguhnya Engkau sebaik-baik pelindung.."
Ah,
aku jadi teringat surat dari ibuku sebelum aku menaiki
pesawat.. Dan, air matakupun tumpah, tak kuasa menahan rindu.. ummi, abah,
nini, naufal, faqihah, faris, syaif, nu'aim, nusaibah, nurul.. Allah, apa kabar
mereka? seketika terbayang wajah mereka, lagi..
Ummi
yang sedang tersenyum padaku, mencium pipiku lembut..
"teteh,
hati-hati yaa disana.. jaga imanmu, aqidahmu, shalatmu, dan pakaianmu.. ummi
dan abah tak bisa menjagamu, namun ummi yakin, Allah akan terus
menjagamu.." lalu air mataku menetes sedikit demi sedikit..
lalu
muncul abah dengan kedua tangannya yang membentang.. aku berjalan menuju abah
dan memeluknya, lalu abah mencium keningku lembut..
"kalo
abah bisa anter kamu sampe naik pesawat, abah jabanin deh.. tapi sayangnya gak
bisa.. sukses yaa teh disana.. jangan lupa, selesai S3 sebelum umur 30th, masih
inget kan? heheh.. inget Allah, Allah selalu mengawasi kamu.."
dan
sekarang giliran nini, ibu dari ummi.. nini, dengan senyumnya yang lembut
menggenggam tanganku erat..
"teteh,
kamu harus menghargai orang, maka orang akan menghargaimu.. oke? semoga
keluarga asuhnya baik yaa.."
Naufal,
dengan lesung pipinya yang aku buat ketika kami berusia 3 dan 2 tahun..
menangis sambil memelukku erat ketika aku bercerita tentang cita-citaku..
dan,
Faqihah.. adik perempuan yang sangat aku sayangi.. dengan matanya yang lebih
kecil dari mataku, menangis ketika bercerita tentang kehidupan SMAnya..
lalu
Faris, Syaif, Nu'aim.. para mujahid kebanggaan ummi dan abah.. Faris dengan 8
Juz, Syaif dengan 16 Juz, dan Nu'aim dengan kepatuhannya kepada ummi dan abah..
mencium tanganku dengan linangan air mata ketika Idul Fitri..
juga
Nusaibah dan Nurul, dengan kepala botaknya yang selalu tertawa.. dengan pikiran
konyol tapi lucu yang membuat aku tertawa..
Dan,
dia... dia, yang ummi anggap sebagai "calon"ku.. yang mendukungku..
yang menangis ketika aku menangis..
Ah..
Aku RINDU..
air mata ini semakin deras.. dan deras.. lalu ku ambil
mushaf.. Qur'an pemberian ummi tercinta.. kubaca perlahan satu persatu huruf
hijaiyah itu.. kubaca ayat per ayat.. selembar, dua lembar, diiringi air mata
rindu dan penyesalan.. lalu... terbaca ayat itu..
Kullu nafsi dzaaiqatul mauut..
"Setiap yang hidup pasti akan mati..."
Tidak, yaa Allah.. jangan Kau ambil nyawa mereka
ketika aku tak berada disisi mereka.. panjangkan
umur mereka, yaa Rabb.. kalimat itu, memang terdengar sangat egois.. tetapi,
apa aku tidak boleh memohon seperti itu, yaa Allah? dan Engkau Maha
Mengetahui isi hati manusia..
maka, lewat lantunan Qur'an ini.. kutitipkan rinduku
pada mereka.. mereka yang aku cintai.. mereka
yang berada di Indonesia..
Ingolstadt,
02 Desember 2012 12:38
No comments:
Post a Comment